Global Sevilla School Lakukan Upaya Maksimal Selamatkan Gaby

Global Sevilla School Lakukan Upaya Maksimal Selamatkan Gaby
Ilustrasi peradilan. ( Foto: Ist / Ist )
/ WBP Jumat, 12 April 2019 | 09:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ronaldo Latturette, mantan guru sekolah Global Sevilla School memastikan bahwa pihak sekolah telah berusaha maksimal untuk memberikan pertolongan kepada Gabriella Sheryl Howard (Gaby 8 tahun), murid kelas III SD yang tewas akibat tenggelam di kolam renang sekolah pada 17 September 2015.

"Kami telah berjuang dan berusaha menyelamatkan Gaby ditemukan sudah tenggelam. Proses pertolongan pertama hingga dibawa ke rumah sakit Pondok Indah Kembangan dilakukan secara cepat," kata kuasa hukum Ronaldo Latturette, Harry Sitorus, melalui keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com Jumat (12/4) memberikan penjelasan terkait gugatan perdata yang dilayangkan orangtua Gaby.

Sebelumnya orangtua Gaby melayangkan gugatan perdata senilai Rp 302 miliar terkait kematian anaknya itu. Sidang pertama gugatan ini dilangsungkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat pada 9 April 2019.

Harry Sitorus mengungkapkan, sejak kecelakaan yang menimpa Gaby, pihak sekolah langsung mendatangi orangtuanya dan meminta maaf. Sebagai bentuk tanggungjawab, pihak sekolah membantu seluruh biaya rumah sakit dan biaya pemakaman Gaby di San Diego Hills.

"Pak Ronaldo juga sudah menyampaikan permintaan maaf kepada orangtua Gaby. Saat sidang tanggal 22 Maret 2015 pak Ronaldo minta maaf di depan orangtua Gaby," ungkap Harry Sitorus.

Dalam persidangan di tingkat pertama terungkap bahwa Gaby ditemukan tenggelam ketika sedang dilakukan pengambilan nilai renang kelas III. Sesuai SOP kelas renang, pengambilan nilai dilakukan berurutan, satu per satu siswa masuk ke kolam renang. Siswa yang belum mendapat giliran tidak boleh masuk kolam. Gaby sendiri diketahui sudah bisa berenang, karena mengikuti les renang di luar jam sekolah.

Dalam prosesnya empat siswa, termasuk Gaby, nekat mencebur ke kolam meski belum mendapat giliran mengambil nilai. Ronaldo sebagai guru renang lantas meminta empat anak untuk naik ke luar kolam. Tapi keempat anak itu kembali turun ke kolam. Ronaldo sampai tiga kali memberi peringatan untuk menunggu giliran penilaian. "Artinya guru memberi pengawasan secara ketat selama pengambilan nilai renang berlangsung," ujar Harry Sitorus.

Sementara setelah mendengarkan keterangan para saksi dalam persidangan, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat pada November 2017 memutuskan bahwa Ronaldo tidak bersalah dalam peristiwa kecelakaan ini. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai tidak ada saksi yang bisa membuktikan Ronaldo berbuat lalai.

Namun sikap berbeda diambil Mahkamah Agung (MA). Setelah menerima kasasi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), pada 25 September 2018 majelis hakim kasasi yang terdiri dari Hakim Agung Margono, dan Wahidin, Andi Abu Ayyub Saleh menghukum Ronaldo pidana 5 bulan dengan masa percobaan 10 bulan. Majelis hakim kasasi menilai Ronaldo telah melakukan kelalaian yang menyebabkan terjadinya kecelakaan terhadap Gaby. Namun putusan itu tak mengharuskan Ronaldo menjalani pidana penjara. Pidana lima bulan baru berlaku jika dalam kurun 10 bulan ia melakukan tindak pidana lagi.

"Jujur kami kaget dan prihatin dengan putusan ini (kasasi). Fakta-fakta persidangan jelas bahwa ini murni kecelakaan dan Ronaldo sebagai guru juga sudah menjalankan SOP (standar operasional prosedur). Tapi sebagai warga negara Ronaldo akan tetap patuh dan menghormati setiap putusan hukum," tegas Harry Sitorus.

Terkait gugatan perdata dari orangtua Gaby, Harry Sitorus tidak ingin berspekulasi. "Kami akan mengikuti proses hukum," kata Harry Sitorus.



Sumber: BeritaSatu.com