Rp 48,9 Triliun, Kontribusi Grab terhadap Ekonomi Indonesia

Rp 48,9 Triliun, Kontribusi Grab terhadap Ekonomi Indonesia
ilustrasi Grabcar ( Foto: istimewa / istimewa )
Dwi Argo Santosa / DAS Kamis, 11 April 2019 | 11:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hasil riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics menunjukkan bahwa kontribusi Grab terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan sebesar Rp 48,9 triliun tahun 2018.

Dengan menawarkan peluang pendapatan kepada sekitar 300.000 mitra pengemudi dan 40.000 agen Kudo individual yang sebelumnya menganggur, input ekonomi Grab diperkirakan sebesar Rp 15,4 triliun tahun 2018.

Angka-angka tersebut diperoleh dari survei CSIS dan Tenggara Strategics yang digelar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar. Survei dilakukan terhadap empat lini usaha Grab, yakni Grabbike, Grabcar, Grabfood dan Kudo. Pemilihan kota dilakukan berdasarkan tingkat penggunaan platform digital yang signifikan oleh masyarakat.

CSIS dan Tenggara Strategics memperkirakan bahwa GrabFood, memberikan kontribusi terbesar yakni Rp 20,8 triliun dari Rp 48,9 triliun. Sedangkan berturut-turut GrabBike dan GrabCar berkontribusi masing-masing Rp 15,7 triliun dan Rp 9,7 triliun . Kudo melalui jaringan agennya menciptakan kontribusi ekonomi sebesar Rp 2,7 triliun.

Sementara itu pendapatan mitra pengemudi GrabBike dan GrabCar meningkat 113% dan 114% menjadi rata-rata Rp 4 juta dan Rp 7 juta setelah bermitra dengan Grab.

Melalui keterangan pers yang diperoleh Beritasatu.com, Kamis (11/4/2019), CSIS dan Tenggara Strategics menyebutkan, survei dilakukan untuk mengukur bagaimana inovasi teknologi Grab meningkatkan potensi sektor ekonomi informal di Indonesia.

Berdasarkan temuan riset tersebut, Grab diperkirakan berkontribusi sebesar Rp 48,9 triliun ke perekonomian Indonesia pada tahun 2018 melalui empat lini usahanya. Angka kontribusi ekonomi diestimasi dari survei terhadap 3.418 responden yang dilakukan dari November hingga Desember 2018 terhadap pendapatan mereka yang diperoleh melalui platform Grab.

CSIS dan Tenggara Strategics melakukan survei secara tatap muka dengan sampel mitra-mitra yang terdaftar dan aktif selama 3 bulan terakhir berdasarkan database Grab. Penarikan sampel menggunakan metode pengacakan sistematis (systematic random sampling) dan melalui metode kontrol kualitas call-back terhadap 80% responden. Margin of error dari penelitian ini di bawah 3,5% dan tingkat kepercayaan 95%.

 

Dalam keterangannya, CSIS dan Tenggara Strategics menyebutkan bahwa sektor informal di Indonesia, yang terdiri dari pekerja yang berusaha sendiri atau menjalankan usaha kecil serta para pekerja bebas, sudah siap menyambut era disrupsi.

Teknologi dapat membantu mendemokrasikan ekonomi Indonesia dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan yaitu mempermudah pekerja informal, yang secara resmi berjumlah 131 juta pekerja, untuk berpartisipasi dalam peluang ekonomi.

Era disrupsi membuka kesempatan bagi para pekerja informal yang saat ini mendominasi jumlah angkatan kerja Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi, perusahaan seperti Grab telah meningkatkan peluang pendapatan bagi mereka yang bekerja di sektor informal melalui ekosistem yang membantu meningkatkan potensi pendapatan dan memperbaiki kualitas hidup mereka.

“Pendapatan yang ada di dalam sektor informal di Indonesia sangat rendah, dan bahkan lebih rendah daripada UMP. Salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya permintaan terhadap produk dan jasa sektor informal. Penggunaan dan pemanfaatan teknologi, dalam hal ini Grab, dapat membantu mempertemukan dan menghasilkan permintaan terhadap produk dan jasa pekerja informal tersebut, sehingga pendapatan yang didapatkan bisa meningkat,” kata Ketua Tim Peneliti sekaligus Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri.

Berdasarkan survei, rata-rata pendapatan mitra pengemudi GrabBike dan GrabCar di lima kota meningkat sebesar 113% dan 114%, menjadi Rp 4 juta dan Rp 7 juta per bulannya, setelah bermitra dengan Grab.

Untuk GrabBike, 50% mitra pengemudi memiliki pendapatan pada kisaran Rp 3 juta hingga Rp 5 juta setelah bermitra. Sebelumnya, hanya 22% dari mitra pengemudi yang memiliki pendapatan pada kisaran ini. Lebih lanjut, terdapat 18% mitra pengemudi yang berada pada kelompok pendapatan Rp 5 juta hingga Rp 7 juta setelah bermitra dengan GrabBike.

Berdasarkan temuan ini, CSIS-Tenggara Strategics menyimpulkan bahwa mayoritas mitra GrabBike memiliki tingkat pendapatan 135% di atas rata-rata pengusaha informal dan 208% di atas pekerja bebas, seperti dicatat oleh BPS.