OJK: Milenial Tanpa Menabung Kurang Keren

OJK: Milenial Tanpa Menabung Kurang Keren
Ilustrasi OJK. ( Foto: Antara )
Nida Sahara / WBP Kamis, 11 April 2019 | 13:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai target inklusi keuangan 75 persen hingga akhir tahun 2019. Salah satu caranya menggandeng Universitas Paramadina guna menyasar mahasiswa. OJK menilai, milenial tanpa menabung, kurang keren.

"Data BPS menyebutkan pada 2016 usia muda 16-30 tahun sebanyak 60,34 juta jiwa atau satu per empat dari jumlah penduduk Indonesia. Sangat membanggakan jika milenial mengetahui dan memahami jasa keuangan. Jadi milenial tanpa menabung itu kurang keren," kata Executive Director Head of Financial Literacy and Inclusion Department OJK Sondang Martha Samosir dalam "Literasi Keuangan Goes to Campus" di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Sondang Martha Samosir menjelaskan, pada 2016 tingkat inklusi keuangan di Indonesia masih 67,8 persen, sedangkan target tahun ini 75 persen.Sementara kiterasi keuangan pada 2016 sebesar 27,8 persen, sedangkan target literasi tahun ini 35 persen.

Sondang Martha Samosir mengatakan, strategi OJK selain bekerja sama dengan universitas juga menggandeng industri keuangan. "Kami ada simpanan pelajar (SimPel) yang bekerja sama dengan Kemdikbud dan Kementerian Agama. Sasarannya, pelajar sekolah umum dan madrasah," kata Sondang Martha Samosir.

Di sisi lain, Sondang Martha Samosir mengimbau masyarakat agar tidak menjadi korban jasa keuangan ilegal. Untuk itu, Sondang meminta masyarakat melihat 2L, yakni legal dan logis. Apakah perusahaan itu legal atau tidak. Caranya, bisa cek di web OJK atau telepon ke 157. "Kemudian logis atau tidak, suku bunga saat ini misalnya 8 persen per tahun, tapi ada yang tawarkan 8 persen per bulan, ini kan tidak logis, jadi tidak masuk akal. Makanya perlu mengecek lebih dulu, jangan sampai tergiur dan menjadi korban," kata Sondang Martha Samosir.

OJK juga memberikan tips perencanaan keuangan yakni 10 persen dari penghasilan untuk kebutuhan insidental, sebesar 20 persen untuk menabung, 30 persen untuk membayar utang, dan 40 persen untuk kebutuhan sehari-hari. "Penghasilan itu perlu disisihkan, lakukan financial checkup, kalau lebih besar utang dari penghasilan, itu bahaya. Sisihkan untuk menabung dan investasi," jelas Sondang Martha Samosir.

Sondang Martha Samosir menyebut, pada 2 Mei 2019 akan ada SimPel Day, dan pada 8 Agustus merupakan Hari Menabung Nasional.



Sumber: Investor Daily