Ternyata Tak Semua Perusahaan Logistik Naikkan Tarif

Ternyata Tak Semua Perusahaan Logistik Naikkan Tarif
Ilustrasi jasa pengiriman ekspres, pos, dan logistik. ( Foto: Antara )
Yuliantino Situmorang / YS Kamis, 11 April 2019 | 15:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah pelaku usaha jasa pengiriman barang (logistik) menaikkan tarif sangat signifikan, bahkan hingga 350%. Hal itu buntut dari kenaikan tarif kargo udara berdasarkan surat muatan udara (SMU) dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini.

Sejumlah perusahaan yang menaikkan tarif seperti PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), begitu juga PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) yang ikut menaikan tarif bertahap, hingga J&T Express yang sudah menaikkan ongkos kirimnya sejak Desember 2018.

Contohnya, berdasarkan data cektarif.com maupun konfirmasi ke call center perusahaan terkait, untuk pengiriman dengan berat barang 1 kilogram (kg) dari Jakarta ke Balikpapan dengan paket regular, JNE mematok tarif Rp 49.000, sebelumnya Rp 40.000. Lalu, Tiki yang sebelumnya Rp 39.000 menjadi Rp 48.000, Pos Indonesia dari Rp 46.000 menjadi Rp 51.000, J&T yang semula Rp 35.000 menjadi Rp 46.000, dan RPX Express dari Rp 37.000 menjadi Rp 63.000.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan, kenaikan tarif kargo memang berdampak negatif ke sektor logistik, karena perusahaan logistik akan melakukan penyesuaian harga.

“Dampak paling terasa ke Indonesia bagian timur yang sebagian besar menggunakan angkutan udara. Imbas lainnya bisnis e-commerce cepat atau lambat akan alami tekanan. Padahal dalam setahun nilai transaksi melebihi Rp 100 triliun dari e-commerce,” ujar Bhima.

Selain itu, lanjut Bhima, kenaikan tarif ini juga akan ada mendorong perubahan perilaku konsumen yang akan lebih memilih layanan logistik dengan tarif termurah. Dampaknya pun akan terjadi prgeseran pangsa pasar, di mana perusahaan logistik dengan tarif termurah akan banyak dipilih masyarakat. “Bisnis logistik memang sensitif terhadap perubahan harga,” ungkap Bhima.

Tidak Naik
Namun, masih ada beberapa pemain logistik ekspres yang menggunakan harga lama dan tidak mengacu pada kenaikan tarif kargo seperti Lion Parcel dan SiCepat.

Chief Marketing officer PT SiCepat Ekspres Indonesia (SiCepat) Wiwin Dewi Herawati mengatakan, kenaikan tarif pada industri ini memang tidak bisa dihindari, karena beberapa komponen dalam proses logistik terdapat biaya-biaya yang harus disesuaikan. Sejak SiCepat berdiri tahun 2014, Wiwin mengaku baru pada 18 Januari 2019 lalu perusahaannya menaikkan tarif hingga 15%.

Meski begitu, kenaikan tersebut tidak berlaku nasional. “Ada beberapa wilayah yang tidak mengalami kenaikan tarif karena tidak perlu menggunakan pesawat udara,” katanya.

Walaupun ada kenaikan tarif, lanjut Wiwin, tren pengiriman barang melalui jasa perusahaan logistik akan tetap mengalami kenaikan. Sebab tren belanja online terus meningkat dan berdampak pada peningkatan pengiriman barang melalui perusahaan logistik.

Agar kenaikan tarif tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat, saat ini menurutnya banyak penjual online atau e-commerce, termasuk perusahaan logistik, menyiasatinya dengan memberi subsidi pengiriman hingga memberikan diskon ongkos kirim bagi setiap anggota atau pelanggan.

“Untuk pelanggan loyal ada beberapa program menarik yang diberikan, pengantaran cepat sampai meskipun bayar ongkir tarif regular tetap dipertahankan sehingga pelanggan tetap puas,” ujarnya.

Adapun pemain yang tidak menaikkan tarif seperti Lion Parcel, dikarenakan saat ini perusahaan tersebut tengah fokus mengembangkan pengiriman melalui jalur darat. Salah satunya yakni bekerja sama dengan PT KAI Logistik (Kalog).

Penandatanganan kerja sama tersebut juga telah dilakukan pada Maret 2019 oleh Chief Executive Officer (CEO) Lion Parcel, Farian Kirana dan Plt Direktur Utama Kalog Junaidi Nasution.

Farian mengatakan, kerja sama dengan Kalog merupakan alternatif jalur distribusi barang selain udara. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan harga pengiriman barang.

Selain itu, kerja sama ini juga ditujukan untuk mempercepat waktu pengiriman barang serta untuk melayani daerah-daerah yang belum dilayani oleh jalur udara.

Lewat Kalog, kata dia, beberapa rute bisa lebih ekonomis dan lebih cepat dari pesawat. "Harapannya pengguna lebih puas dengan layanan kami," paparnya.



Sumber: Suara Pembaruan