Optimalisasi TKDN Jadi Penunjang Industri 4.0

Optimalisasi TKDN Jadi Penunjang Industri 4.0
Proyek Palapa Ring Tengah mulai melakukan penggelaran kabel optik laut di Manado. ( Foto: ist )
/ HK Kamis, 11 April 2019 | 21:15 WIB

Jakarta, Beritsatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) terhadap pengerjaan berbagai proyek penunjang Industri 4.0. Misalnya, pada proyek Palapa Ring, Kemenperin telah memacu program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) yang tujuannya juga untuk mengurangi impor.

“Dalam pengerjaan proyek Palapa Ring di paket timur, Kemenperin mendorong penggunaan produk lokal sesuai dengan ketentuan TKDN yang mengharuskan minimal ada 30% konten dalam negeri,” kata Direktur Elektronika dan Telematika Kemenperin Janu Suryanto di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Janu mengungkapkan, proyek Palapa Ring membutuhkan 35.280 kilometer kabel bawah laut dan 21.807 kilometer kabel darat. Karenanya, peningkatan produksi atau ekspansi sektor industri elektronika dan telematika menjadi sangat penting untuk menjawab tantangan kebutuhan konten lokal dalam infrastruktur Industri 4.0.

“Dengan peluang dan tantangan yang ada pada sektor itu, industri elektronika 4.0 membutuhkan investasi manufaktur kelas dunia yang memiliki kemampuan manufaktur terdepan selain assembly, didukung tenaga kerja terampil dan inovatif, serta industri unggulan domestik yang berbakat,” terang dia.

Secara keseluruhan, kata Janu, kebutuhan industri kabel komunikasi di dalam negeri mencapai 9 juta kilometer. Industri dalam negeri sendiri sudah bisa memproduksi sebanyak 5,4 juta kilometer kabel serat optik. Pada tahun 2019, diproyeksikan ada tambahan pabrik kabel serat optik baru yang mulai beroperasi. "Akan ada, investasi baru mencapai Rp 1 triliun untuk pembangunan pabrik kabel serat optik di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah," ungkap Janu.

Dia menambahkan, saat ini Kemenperin sudah memetakan beberapa pengguna potensial kabel serat optik dalam negeri, antara lain, PT Telkom Indonesia Operational & Maintenance, Regional Metro Junction (RMJ) Project, Back Bone & Ring Project, TiTo Project (Trade In Trade Out), FTTH Project, Cable TV Project, Cellular Mobile Project, Palapa Ring ProjectIndonesia National Broadband Project. “Di pasar, suplai kabel FO lokal cuma 60%, sisanya 40% masih impor,” imbuh dia.

Janu menyebut, proyek Palapa Ring Ring atau yang belakangan disebut ‘Tol Langit’ diproyeksikan bisa mendorong percepatan tumbuhnya industri manufaktur di Tanah Air. Dalam industri 4.0, dikenal lima teknologi dasar yang perlu dikuasai, di antaranya artificial intelligence, internet of things (IoT), wearables (augmented reality dan virtual reality), advanced robotics, dan 3D printing.

“Dari lima teknologi tersebut, IoT merupakan yang paling fundamental dan membutuhkan koneksi internet yang sangat cepat,” ujar dia.

Teknologi IoT mendorong industri untuk bertransformasi memanfaatkan teknologi digital dan internet dalam menopang proses produksi agar lebih terintegrasi, efisien, dan produktif. Menurut Janu, industri IoT di Indonesia mulai tumbuh dengan perkiraan pangsa pasar mencapai Rp 444 triliun pada 2022. “Nilai tersebut disumbang dari konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform Rp 156,8 triliun, perangkat IoT Rp 56 triliun, serta network and gateway Rp 39,1 triliun,” jelas dia.

Berdasarkan penelitian McKinsey, infrastruktur digital akan memberikan peluang hingga US$ 150 miliar terhadap perekonomian nasional di tahun 2025. Apalagi, Indonesia juga menjadi salah satu negara dengan pengguna internet tertinggi di dunia, mencapai 143,26 juta orang atau lebih dari 50% total penduduk di Indonesia. 

 



Sumber: Investor Daily