Startup Medigo Jalin Kerja Sama dengan 10 RS, 500 Klinik

Startup Medigo Jalin Kerja Sama dengan 10 RS, 500 Klinik
Startup teknologi kesehatan Medigo ( Foto: Ist )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 12 April 2019 | 14:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebagian besar dari 2800 rumah sakit di Indonesia belum terkoneksi secara digital ke dokter dan pasiennya serta mayoritas dari total 18.000 klinik belum terstandarisasi dan masih menjalankan operasional secara manual. Startup teknologi kesehatan Medigo (www.medigo.id) berusaha menjawab permasalahan ini lewat tiga produk digital kepada pengelola faskes di Indonesia.

Medigo menghubungkan para stakeholder di industri kesehatan dalam satu ekosistem kesehatan yang saling terhubung antara pasien, dokter, rumah sakit, klinik, hingga partner pendukung seperti asuransi, farmasi, dan pemerintah melalui teknologi digital.

“Kami di Medigo percaya bahwa permasalahan utama dalam dunia kesehatan Indonesia bukan di pasien, tetapi pada provider-nya. Industri kesehatan merupakan industri yang sangat sarat dengan regulasi, birokrasi, dan bersifat kompleks. Oleh karena itu dibandingkan dengan kebanyakan startup healthtech yang menyasar sisi hilir (pasien), Medigo menyasar segmen hulu (dokter dan pengelola faskes). Sebelum permasalahan mendasar di hulu kita solve, sulit untuk menyediakan pelayanan kesehatan berkualitas dengan pengalaman pasien yang baik” Harya Bimo, CEO Medigo, dalam siaran persnya yang diterima hari ini, Jumat (12/4/2019).

Pada saat ini, industri kesehatan di Indonesia masih bergelut dengan berbagai permasalahan mendasar akibat belum terhubungnya sistem pelayanan kesehatan di semua level mulai dari puskesmas, klinik swasta, sampai rumah sakit. Akses yang sulit kepada rekam medis, sistem rujukan antar fasilitas kesehatan (faskes) yang tidak efisien, dan proses klaim asuransi yang manual dan menyulitkan adalah beberapa isu yang tidak hanya dirasakan oleh pasien tapi juga oleh praktisi kesehatan seperti dokter dan pengelola faskes.

Medigo menawarkan tiga produk digital kepada pengelola faskes di Indonesia. Medigo memiliki platform pengelolaan rawat jalan untuk rumah sakit agar dapat mengelola proses administrasi dengan lebih efisien. Lewat platform ini, pihak rumah sakit dapat mengelola pendaftaran, antrian, slot pasien, sampai penjadwalan dokter. Platform Medigo juga dapat terhubung secara API dengan sistem informasi rumah sakit yang sudah ada.

Selanjutnya, Medigo menyediakan sistem manajemen operasional klinik yang diberi nama aplikasi Qlinik. Aplikasi ini diperuntukkan bagi owner/pengelola klinik agar dapat menjalankan operasional kliniknya secara digital. Aplikasi ini dapat diakses secara web dan sudah juga terdapat versi mobile yang dapat diunduh di Play Store dan Apple Store.

Terakhir adalah aplikasi untuk pasien yang ingin berkonsultasi, mengecek resume medis, dan melakukan pembayaran. Aplikasi ini terhubung dan terkustomisasi dengan sistem rumah sakit. Saat ini aplikasi tersebut belum dirilis ke publik.

Pencapaian dan pendanaan
Per Maret 2019, Medigo melakukan piloting bersama Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) dan Rumah Sakit Pertamina jaya (RSPJ) dan lebih dari 100 klinik. Tahun ini, Medigo akan mendorong kerja sama dengan 10 rumah sakit, 500 klinik, hingga membidik 3 juta interaksi.

Didirikan di Bulan Mei 2018, Medigo menerima pendanaan di level seed pada masa Q4 2018 dari Venturra Discovery. “Sudah saatnya untuk mereformasi sistem kesehatan Indonesia. Bersama Medigo, kami bersemangat untuk bekerja sama dengan semua lembaga untuk berinovasi dan menciptakan ekosistem yang terhubung untuk meningkatkan hubungan antara pasien, dokter, dan fasilitas kesehatan,” kata Raditya Pramana, Partner di Venturra Discovery.

Medigo yakin bahwa tidak lama lagi penyedia layanan kesehatan di Indonesia tidak luput dari disrupsi teknologi dan kebutuhan mereka untuk partner healtech yang tepat dapat membantu mereka mempertahankan sustainabilitas. Apalagi dalam lima tahun mendatang sektor kesehatan di Indonesia diprediksi tumbuh tiga kali lipat menjadi US$21 miliar.

Medigo berharap seluruh pelaku industri kesehatan di Indonesia mau membuka diri untuk berkolaborasi secara digital antar sesama demi menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih baik untuk semua pihak.



Sumber: BeritaSatu.com