CBL Jadi Proyek Percontohan Multimoda Logistik

CBL Jadi Proyek Percontohan Multimoda Logistik
Ilustrasi pelabuhan laut. ( Foto: Antara )
Thresa Sandra Desfika / FER Sabtu, 13 April 2019 | 14:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) menyiapkan proyek Cikarang Bekasi Laut (CBL) Inland Waterway menjadi pilot project yang mengimplementasikan transportasi multimoda dalam aktivitas logistik nasional.

Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan Kemhub, Cris Kuntadi, mengungkapkan, CBL Inland Waterway adalah proyek strategis nasional yang memanfaatkan kanal banjir sebagai sarana untuk melakukan aktivitas logistik.

"Dengan pemanfaatan kanal tersebut, sebagian kargo yang biasanya ditransportasikan melalui jalan raya menggunakan angkutan darat seperti truk, trailer, dan yang lainnya dapat dikirimkan ke kawasan Cikarang dan sekitarnya melalui kanal CBL ini," ungkap Cris dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Cris mengatakan, secara makro, keuntungan dari CBL adalah mengurangi porsi angkutan darat melalui jalan raya di mana beban jalan akibat angkutan logistik ini sudah dalam tahap memprihatinkan.

"Tingginya tingkat penggunaan jalan raya yang diakibatkan tingginya tingkat penggunaan angkutan darat menyebabkan kepadatan jalan raya yang semakin meningkat setiap harinya. Di samping itu, angkutan darat juga merupakan moda transportasi dengan tingkat kecelakaan paling tinggi dan dapat dinilai sebagai moda transportasi yang paling rentan terhadap risiko," ujar Cris.

Menurut Cris, dengan adanya implementasi CBL Inland Waterway ini, diharapkan dapat mengurangi porsi angkutan darat. Dengan begitu, maka tingkat kepadatan di jalan raya dapat dikurangi dan kerusakan jalan akibat angkutan barang dapat diminimalisir.

Selain itu, manfaat lain yang diharapkan bisa didapat dari implementasi CBL ini adalah berkurangnya polusi udara yang diakibatkan angkutan darat, berkurangnya penggunaan bahan bakar minyak, dan berkurangnya tingkat kecelakaan di jalan raya.

Perlu diketahui, CBL merupakan proyek strategis nasional yang sudah dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Perpres Nomor 58 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

Cris mengatakan, CBL diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2020. Namun demikian, sampai dengan saat ini CBL belum dilaksanakan karena menunggu proses persetujuan perizinan dan rekomendasi dari beberapa Kementerian terkait seperti Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Kemenhub, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (Kempupera), serta beberapa stakeholder lain yang terlibat.

Di samping itu, CBL masih memerlukan kejelasan terkait dengan pelaksana proyek karena Perpres Nomor 55 tahun 2018 hanya menyatakan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) sebagai koordinator rencana aksi, bukan sebagai pelaksana keseluruhan lingkup proyek.

Tindaklanjut dari hal tersebut adalah BPTJ mengajukan sebagai penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK) CBL dan resmi ditunjuk sebagai PJPK pada Maret 2019. Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan BPTJ adalah dengan menginisiasi kerja sama pemerintah badan usaha (KPBU) untuk melibatkan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur yang dibutuhkan CBL Inland Waterway.

"Proyek CBL ini melibatkan banyak stakeholder dan membutuhkan dukungan dari semua pihak agar dapat diimplementasikan dengan efektif," sebut Cris.

Selain itu, Cris mengungkapkan, tantangan terbesar dari CBL adalah lokasi terminal yang akan dikembangkan. "Ada dua opsi terkait dengan lokasi terminal CBL. Opsi yang pertama yaitu terminal terletak di ujung kanal. Kelemahan dari opsi ini adalah banyaknya utilitas (jembatan dan pipa gas) yang harus direlokasi dan minimnya ketersediaan air kanal yang mencukupi," papar Cris.

Sedangkan, untuk lokasi yang kedua, terminal CBL akan dibangun di pertengahan kanal. Usulan lokasi terminal yang kedua akan memakan sebagian kawasan sawah strategis. Dengan pengembangan CBL ke depannya, menurut Cris, ada potensi bahwa kawasan industri akan mendekat ke terminal CBL dan memakan lebih banyak area sawah strategis.

"Keuntungan dari lokasi terminal yang diusulkan adalah relokasi utilitas relatif lebih sedikit dibandingkan dengan opsi pertama dan level air kanal dapat dijaga dalam batas yang mencukupi sepanjang tahun," tandas Cris.



Sumber: BeritaSatu.com