Jokowi: Naikkan Tax Ratio Drastis Bisa Guncang Ekonomi

Jokowi: Naikkan Tax Ratio Drastis Bisa Guncang Ekonomi
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / WBP Minggu, 14 April 2019 | 06:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon Presiden (Capres) nomor Urut 02 Prabowo Subianto menyebut rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) atau tax ratio Indonesia hanya berkisar di angka 10 persen. Menurut Prabowo, angka ini turun dibandingkan era Orde Baru dimana tahun 1997 pernah mencapai tax ratio 16 persen. Bahkan Prabowo menyebutkan tax ratio Indonesia jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang mencapai 19 persen.

Menanggapi hal tersebut, Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) mengatakan rasio penerimaan pajak tidak bisa secara langsung naik drastis kembali ke 16 persen atau bahkan ke 19 persen. Jika hal tersebut dilakukan, kemungkinan terjadi syok atau guncangan ekonomi.

"Kalau ingin menaikkan rasio yang Pak Prabowo sampaikan dari 10 menjadi 16 persen, kalau dalam setahun naiknya drastis seperti itu, artinya 5 persen dari GDP (gross domestic product) artinya Rp 750 triliun itu langsung ditarik jadi pajak, akan terjadi syok ekonomi," kata Jokowi di acara debat Pilpres kelima, di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4/2019) malam.

Jokowi menegaskan bahwa saat ini pemerintah sedang berusaha keras menaikkan kembali rasio penerimaan pajak. Namun dilakukan secara bertahap dengan membangun dasar dan berkelanjutan. Selain itu, pemerintah juga menggenjot penerimaan negara melalui tax amnesty.

"Yang kita kerjakan membangun tax based yang sebanyak-banyaknya, itu yang kita lakukan seperti tax amnesty, Rp 114 triliun income dari tax amnesty," terang Jokowi.

Jokowi menuturkan saat ini pihaknya telah mengubah sistem pembayaran pajak agar lebih mudah. Caranya dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) secara online. "Bisa beberapa jam saja, ini reformasi yang dilakukan," pungkas Jokowi.



Sumber: BeritaSatu.com