Kemhub Beri Waktu 2 Pekan Maskapai Sesuaikan Tarif

Kemhub Beri Waktu 2 Pekan Maskapai Sesuaikan Tarif
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. ( Foto: Kemhub )
Thresa Sandra Desfika / CAH Minggu, 14 April 2019 | 22:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) menyebut telah ada kesepakatan dengan maskapai untuk menyesuaikan harga tiket pesawat kelas ekonomi agar bervariasi dalam koridor tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB).

Apabila dalam dua pekan ke depan, kesepakatan itu tidak dilakukan maskapai, maka regulator akan menerbitkan peraturan rinci subkelas tiket.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, Undang-Undang (UU) No 1/2009 tentang Penerbangan memberikan kewenangan bagi Kemhub untuk mengatur tarif tiket pesawat kelas ekonomi domestik niaga berjadwal. Hal itu demi memberikan tarif terjangkau kepada masyarakat, namun dengan tetap mempertimbangkan eksistensi maskapai.

"Diterjemahkan dari UU bahwa Kemenhub berhak untuk menetapkan subkelas harga-harga tertentu yang berjenjang. Namun demikian, kita tahu, seperti Garuda Indonesia adalah public company sehingga mekanisme yang diupayakan dinamis sesuai market," terang Budi di Jakarta, Minggu (14/4/2019).

Kemhub memberikan waktu dua pekan ke depan kepada operator penerbangan nasional untuk menyesuaikan harga dengan beragam level, baik itu level TBA, menengah, hingga level TBB. Hal tersebut, jelas Budi, sesuai dengan kesepakatan antara Kemenhub dan para maskapai.

Menurut dia, kesepakatan antara Kemenhub dan maskapai itu dibuat dalam skema sederhana, misalnya tiket dengan harga batas atas disediakan sebanyak 20 persen dari total kursi kelas ekonomi yang dijual, tiket senilai 90 persen dari TBA disediakan sebanyak 20 persen, tiket senilai 60 persen disediakan sejumlah 20 persen, tiket seharga TBB disediakan 10 persen dari total kursi ekonomi, dan sisanya disediakan secara bervariasi di koridor TBA serta TBB.

"Kita memberikan kesempatan 2 minggu ke depan untuk Garuda dan Lion mengikuti apa yang disepakati. Bila kesepakatan dilaksanakan dengan baik, maka jalan terus. Tapi jika mereka tak mengindahkan yang disepakati, saya dengan berat hati menetapkan ketentuan subkelas," jelas Budi Karya Sumadi.

Lebih jauh, Budi menjelaskan, mahalnya tiket pesawat saat ini merupakan akibat dari perang harga antarmaskapai beberapa tahun belakangan. Guna menarik minat masyarakat, masing-masing maskapai menjual harga tiket pesawat semurah-murahnya. Namun, perang harga itu malah membuat rugi operator penerbangan lantaran biaya yang ditanggung lebih tinggi ketimbang pendapatan.

"Oleh karenanya, terjadilah sekarang ini harga (tiket) yang mahal agar penerbangan ini tetap eksis. Caranya adalah mereka ingin memperoleh uang sebanyak mungkin supaya bisa masuk menutupi biaya dan untung," papar Budi Karya Sumadi.

Untuk diketahui, Kemenhub sudah menerbitkan dua regulasi anyar, yakni Peraturan Menteri Perhubungan (PM) 20/2019 perihal mekanisme perhitungan tarif dan Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No 72/2019 yang menetapkan TBA dan TBB per rute penerbangan. Dalam PM 20/2019 ditegaskan TBB paling rendah 35% dari TBA. Sedangkan, dalam beleid sebelumnya TBB ditetapkan 30 persen dari TBA.



Sumber: BeritaSatu.com