Neraca Dagang Maret Surplus US$ 540 Juta

Neraca Dagang Maret Surplus US$ 540 Juta
Pelabuhan peti kemas untuk aktivitas ekspor-impor. ( Foto: Antara )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 15 April 2019 | 11:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Maret 2019 mengalami surplus US$ 540 juta hasil selisih ekspor Maret 2019 sebesar US$ 14,03 miliar, dan impor mencapai US$ 13,49 miliar

"Ekspor Maret 2019 mencapai US$ 14,03 miliar atau meningkat 11,71 persen dibanding Februari 2019. Sementara dibanding Maret 2018 menurun 10,01 persen," demikian data BPS yang dipublikasikan Senin (15/4/2019).

Ekspor nonmigas Maret 2019 mencapai US$ 12,93 miliar, naik 13,00 persen dibanding Februari 2019. Sementara dibanding ekspor nonmigas Maret 2018, turun 9,23 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Maret 2019 mencapai US$ 40,51 miliar atau menurun 8,50 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 37,07 miliar atau menurun 7,83 persen.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2019 terhadap Februari 2019 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$ 401,3 juta (24,21 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$ 31,8 juta (4,84 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Maret 2019 turun 6,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 14,08 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik 1,53 persen.

Ekspor nonmigas Maret 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 1,97 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,38 miliar dan Jepang US$ 1,17 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,00 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,11 miliar.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Maret 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$7,38 miliar (18,23 persen), diikuti Jawa Timur US$ 4,68 miliar (11,56 persen) dan Kalimantan Timur US$ 4,20 miliar (10,36 persen).

Nilai impor Maret 2019 mencapai US$ 13,49 miliar atau naik 10,31 persen dibanding Februari 2019, namun bila dibandingkan Maret 2018 turun 6,76 persen.

Impor nonmigas Maret 2019 mencapai US$ 11,95 miliar atau naik 12,24 persen dibanding Februari 2019 dan turun 2,29 persen jika dibanding Maret 2018.

Impor migas 2019 mencapai US$ 1,54 miliar atau turun 2,70 persen dibanding Februari 2019, demikian juga apabila dibandingkan Maret 2018 turun 31,17 persen.

Peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2019 dibanding Februari 2019 adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 211,2 juta (17,04 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal laut dan bangunan terapung sebesar US$ 47,8 juta (67,32 persen).

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Maret 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$ 10,42 miliar (29,01 persen), Jepang US$ 3,97 miliar (11,05 persen), dan Thailand US$ 2,42 miliar (6,75 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 19,21 persen, sementara dari Uni Eropa 8,37 persen.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–Maret 2019 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 14,31 persen, 7,27 persen, dan 4,17 persen.



Sumber: BeritaSatu.com