Kerja Sama Indonesia-Jepang

PLTS Atap Berkapasitas 507 KWp Mulai Beroperasi

PLTS Atap Berkapasitas 507 KWp Mulai Beroperasi
Pemasangan Modul Surya di AEON Mall JGC ( Foto: Istimewa )
Retno Ayuningtyas / FER Kamis, 25 April 2019 | 17:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap berkapasitas 507 kilowatt peak (KWp) mulai beroperasi di atas Aeon Mall, Cakung, Jakarta. Proyek senilai Rp 20 miliar ini merupakan hasil implementasi Joint Crediting Mechanism (JCM) di Indonesia.

Kepala Sekretariat JCM Indonesia, Dicky Edwin Hindarto, menuturkan, PLTS Atap di Aeon Mall memiliki kapasitas panel surya sebesar 507 KWp dan batere 110 KW. Listrik yang dihasilkan panel surya ini digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan setrum untuk penerangan pusat perbelanjaan itu.

"Ini bisa menurunkan penggunaan listrik sampai sebesar 10 persen dari total konsumsi listrik di mall atau setara 1 MWh (megawatt hour) per harinya," kata Dicky, Rabu (24/4/2019). Total kebutuhan setrum Aeon Mall disebutnya mencapai 6-7 MW.

Dicky menjelaskan, PLTS Atap di Aeon Mall ini dikerjakan oleh PT Aeon Mall Indonesia bekerja sama dengan Itochu Inc. Proyek ini membutuhkan lahan atau luasan atap sekitar 6.500 meter persegi (M2). Pembangunan PLTS atap ini pun tidak lama, hanya sekitar 6 bulan.

Dicky menambahkan, PLTS Atap tersebut merupakan satu dari 35 proyek JCM di Indonesia. JCM adalah proyek kerjasama bilateral Indonesia-Jepang yang bertujuan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Khusus untuk proyek panel surya Aeon Mall, pihaknya memberikan dana hibah sebesar 50 persen dari total investasi proyek Rp 20 miliar.

"Prosesnya di kami tidak lama, kami butuh 8 bulan hingga 1 tahun saja," tutur Dicky.

Menurut Dicky, pendanaan memang menjadi hambatan terbesar pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Karena itulah, banyak pengembang energi terbarukan yang meminta bantuan dari JCM. Selain PLTS Atap di Aeon Mall, JCM juga memberikan bantuan pendanaan ke sejumlah proyek energi terbarukan lainnya.

"Untuk surya, ada di Jakabaring 2 MW, kemudian di pabrik PT Indesso Aroma 500 KW. Lalu ada pembangkit yang memanfaatkan gas buang pabrik di PT Semen Indonesia 32 MW," papar Dicky.

Bagi pengembang energi terbarukan yang ingin mendapat pendanaan JCM, lanjut Dicky, cukup mengirimkan aplikasi ke JCM Sekretariat Indonesia dan Sekretariat Jepang. Selain itu, pengembang harus menggandeng mitra perusahaan dari Jepang. Setelah itu, pihaknya akan melihat teknologi yang digunakan dan pembiayaannya.

Dicky optimis Proyek PLTS Atap di Aeon Mall dapat diduplikasi di pusat perbelanjaan lain di Indonesia. Luasan atap yang tidak termanfaatkan dapat digunakan sebagai PLTS, sehingga mall akan bisa memanfaatkan energi terbarukan untuk pasokan energinya.

"Saat ini AEON Mall adalah mal pertama yang menggunakan teknologi solar rooftop untuk memasok energi listriknya. Dan mal-mal di Indonesia akan menjadi pusat perbelanjaan yang ramah lingkungan," tegas Dicky.

Direktur Aneka Energi Terbarukan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harris menambahkan, JCM merupakan kerja sama antara Jepang dengan negara-negara lain secara bilateral untuk mengembangkan proyek rendah emisi. Dalam pelaksanaan proyek, memang dilakukan secara mekanisme bisnis. Namun, ada subsidi investasi maksimal 50 persen dari Pemerintah Jepang.

"Dibanding JCM antara Jepang dan negara lainnya, JCM Indonesia jauh lebih maju. Proyeknya juga jauh lebih banyak baik pengembangan energi baru terbarukan maupun konservasi energi," kata Harris.

Mengacu data JCM, PLTS Atap di Aeon Mall tercatat dapat mengurangi emisi karbon 549 ton per tahun. Selanjutnya, PLTS Jakabaring mampu memangkas emisi karbon sebesar 917 ton per tahun, PLTS Atap PT Indesso Aroma 417 ton per tahun, dan pembangkit gas buang Semen Indonesia 149.063 ton per tahun. Sementara Indonesia, sesuai data Kementerian ESDM, memiliki target mengurangi emisi karbon hingga 48,8 juta ton pada tahun ini.



Sumber: Investor Daily