LAPSPI Dorong Penerapan Market Conduct di Industri Perbankan

LAPSPI Dorong Penerapan Market Conduct di Industri Perbankan
Ketua LAPSPI, Himawan Subiantoro, saat membuka seminar hukum "Penerapan Market Conduct Industri Perbankan" di Jakarta, Senin (29/4/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 29 April 2019 | 23:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan sebuah acara seminar hukum "Penerapan Market Conduct Industri Perbankan" di Ballroom Hotel Pullman, Thamrin-Jakarta, Senin (29/4/2019).

Seminar yang menghadirkan narasumber Theresia Endang Ratnawati (Senior Legal Advisor Bank BCA) dan Bernard Widjaja (Direktur Market Conduct OJK), dihadiri oleh 140 bank anggota, firma hukum, dan asosiasi perbankan. Seminar ini, bertujuan untuk mensosialisasikan penerapan market conduct yang baik di industri perbankan Indonesia.

Ketua LAPSPI, Himawan Subiantoro mengatakan, pihaknya telah melayani lebih dari 165 klaim yang diselesaikan melalui arbitrase.

"Mayoritas kami mendapat feedback positif, ketika ditanya apakah akan merekomendasikan LAPSPI kepada saudara, manajemen, tetangga sebagai alternatif penyelesaian sengketa. Selain relatif lebih terukur biayanya, waktu yang singkat, begitu masuk arbitrase, harus selesai dalam waktu enam bulan," kata Himawan.

Menurut Himawan, dengan diadakan acara seminar hukum ini diharapkan industri perbankan dapat menerapkan market conduct secara seimbang yang dipercaya dapat menumbuhkembangkan sektor jasa keuangan secara sustain dan sekaligus kecerdasan literasi dari konsumen sektor perbankan.

"Oleh karena itu, penting bagi suatu pelaku usaha jasa sektor perbankan dalam mengetahui dan menerapkan market conduct sebaik mungkin agar dapat terhindar dari kemungkinan terjadinya moral hazard," tegas Himawan.

Himawan menambahkan, penerapan market conduct yang baik akan dapat menekan keinginan para pihak untuk melakukan moral hazard.

"Dari beberapa kasus sengketa yang masuk dan ditangani LAPSPI menggambarkan bahwa pada kedua belah pihak memiliki indikasi dan potensi terhadap moral hazard," kata Himawan.



Sumber: BeritaSatu.com