Indef: Manfaatkan Inisiatif Jalur Sutera untuk Mengakses Pasar Tiongkok

Indef: Manfaatkan Inisiatif Jalur Sutera untuk Mengakses Pasar Tiongkok
Polisi berjaga di China National Convention Center yang menjadi tempat penyelenggaraan "Belt and Road Forum" di Beijing, Tiongkok. ( Foto: AFP )
Herman / FMB Minggu, 12 Mei 2019 | 10:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho mengungkapkan, kerja sama ke depan dengan Tiongkok melalui Inisiatif Jalur Sutera atau Belt and Road Initiative (BRI) seharusnya bukan lagi berada pada pembangunan infrastruktur yang memudahkan barang konsumsi Tiongkok langsung dapat dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Menurut Andry, ke depan kerja sama perlu bertujuan pada pengembangan industri domestik yang berbasis ekspor. Dengan cara ini, ke depan Indonesia dapat mengambil manfaat, mulai dari harapan reindustrialisasi, hingga perbaikan curent account deficit.

"Industri kita tidak semapan industri Tiongkok. Maka kita yang seharusnya difasilitasi oleh Tiongkok, bukan head-to-head. Contoh paling sederhana adalah e-commerce. UMKM kita dipaksakan untuk head-to-head dengan UMKM dari Tiongkok di marketplace mereka, atau ironinya di marketplace kita sendiri. Banyak di antara kita membeli produk yang tarif pengiriman 0 persen dan hanya menunggu tidak lebih dari satu minggu mendapatkan produk langsung dari Tiongkok. Dari harga saja, IKM dan UMKM kita pasti sudah kalah oleh Tiongkok. Maka caranya bukanlah head-to-head, tetapi bermitra," kata Andry Satrio Nugroho di acara diskusi Indef, di Jakarta, Sabtu (11/5/2019).

Yang perlu dilakukan menurut Andry adalah kerja sama agar produk yang dihasilkan bisa langsung tepat sasaran tanpa perlu bersaing sengit dengan IKM dan UMKM Tiongkok.

"Ini bisa mencontoh durian Thailand. MoU yang diteken tahun lalu oleh pemerintah Thailand dan Alibaba, membuat UMKM Thailand bisa menjual durian monthong sebanyak 2 juta ton melalui Alibaba. Ketika diposting pertama kali, 80.000 durian monthong terjual dalam waktu 1 menit saja. Distribusi sudah kuat, marketplace sudah ada dan disediakan oleh Alibaba, pasarnya di Tiongkok sudah ada. Inilah bentuk kerja sama yang komprehensif dan saling menguntungkan," kata Andry.

Industri Indonesia dikatakan Andry memang tidak begitu mengambil peran di rantai pasok dunia, hanya memiliki GVC participation rate sebesar 37,1 persen dari total ekspor di bawah negara berkembang yang sebesar 41,4 persen, tetapi menurut Andry, Tiongkok adalah sumber di mana industri Indonesia bisa berkembang.

"Sebanyak 19,5 persen konten produk dari Tiongkok berada pada produk ekspor dari industri kita. Artinya bahan baku industri terbesar berasal dari Tiongkok. Lalu, sebanyak 13,3 persen produk industri kita menjadi bagian dari produk mereka. Ini artinya, kita juga mengekspor bahan baku untuk produk industri mereka. Angka ini terbesar jika kita bandingkan dengan Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat," urai Andry.



Sumber: BeritaSatu.com