TP Rachmat: Indonesia Perlu Belajar dari Vietnam

TP Rachmat: Indonesia Perlu Belajar dari Vietnam
Founder dan Chairman Triputra Group Theodore Parmadi Rachmat. ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Rabu, 15 Mei 2019 | 23:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia perlu belajar dari Vietnam, negara dengan laju pertumbuhan ekonomi 7% setahun. Dengan laju pertumbuhan ekonomi 5% selama lima tahun terakhir, Indonesia sebaiknya melakukan introspeksi.

"Kalau hotel Vietnam lebih laris dibanding hotel Indonesia, kita mestinya introspeksi diri, kenapa berbeda," kata Founder dan Chairman Triputra Group Theodore Parmadi Rachmat pada acara buka puasa bersama para pemiimpin redaksi media massa di Hotel Ritz Carlton, Rabu (15/5/2019). Hadir pada acara ini, Preskom PT Triputra Agro Persada Arif Patrick Rachmat dan sejumlah eksekutif Triputra Group.

Tingginya laju pertumbuhan ekonomi Vietnam, kata TP Rachmat, antara lain disebabkan oleh derasnya investasi ke negeri yang terlibat perang dengan AS selama 1957 hingga 1975 itu. Dengan perbaikan investasi, Vietnam mampu bertumbuh 8% selama dekade 2000-an -dan dalam lima tahun terakhir bertumbuh 6,2%.

"Saat AS dan RRT terlibat trade war, yang memetik keuntungan adalah Vietnam," ujar TP Rachmat. Investasi dari Negeri Tirai Bambu itu banyak mengalir ke Vietnam. Investasi RRT ke Vietnam bahkan sudah sejak beberapa dekade lalu. Investasi besar-besaran membuat ekonomi Vietnam bertumbuh sekitar 8% selama dekade 2000-an.

Sejak 2016, ekspor Vietnam sudah lebih besar dari Indonesia. Pada tahun itu, ekspor Vietnam US$ 145,2 miliar, sedang ekspor Indonesia US$ 148 miliar. Pada tahun 2018, ekspor Vietnam mencapai US$ 236 miliar, sedang ekspor Indonesia US$ 180 miliar.

Vietnam menjadi tujuan investasi asing, baik dari RRT maupun dari negara lainnya, karena iklim investasi di negara itu yang menarik. Para pekerja Vietnam lebih produktif. Sepekan, jam kerja mencapai 48, sementara jam kerja Indonesia hanya 40. Selain itu, Indonesia terlalu banyak hari libur.

TP Rachmat memperkirakan, suku bunga dunia pada tahun-tahun akan datang cenderung turun seiring dengan rendahnya inflasi. Kondisi ini mestinya menguntungkan Indonesia dalam menarik investasi asing.



Sumber: BeritaSatu.com