Pertamina Akan Tambah Investasi Hulu Migas Jadi Rp 43,4 Triliun

Pertamina Akan Tambah Investasi Hulu Migas Jadi Rp 43,4 Triliun
Direktur Hulu PT Pertamina (persero) Dharmawan H. Samsu. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 17 Mei 2019 | 22:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Pertamina (persero) akan menambah investasi di sektor hulu migas pada 2019 sebesar US$ 400 juta (Rp 797,2 miliar) menjadi US$ 3 miliar (Rp 43,4 triliun) dari saat ini US$ 2,6 miliar (Rp 37,6 triliun). Penambahan investasi tersebut untuk pengembangan bisnis dan mencari cadangan migas baru.

"Saat ini kita sedang dalam proses usulan penambahan investasi," kata Direktur Hulu PT Pertamina (persero) Dharmawan H. Samsu di sela buka bersama media di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Dari rencana penambahan investasi UD$ 400 juta tersebut, sebesar US$ 200 juta untuk business development seperti merger dan akuisisi serta mengikuti sejumlah tender hulu migas. Sementara sebesar US$ 100 juta akan digunakan untuk PT Pertamina EP dan sisanya US$ 100 juta untuk pengembangan blok migas di anak usaha di sektor hulu.

Dharmawan H. Samsu mengatakan, dari investasi hulu migas sebesar US$ 2,6 miliar, sekitar US$ 1,9 miliar (Rp 27,4 triliun) untuk menggarap 98 proyek eksplorasi dan pengembangan hulu migas di Indonesia. Adapun total investasi Pertamina pada 2019 pada Rencana Anggaran Kerja Perusahaan (RKAP) sebesar US$ 4,2 miliar. "Komitmen investasi Pertamina di sektor hulu menjadi agenda prioritas di tahun 2019, investasi di hulu sekitar 60 persen dari total investasi," kata Dharmawan H. Samsu.

Dharmawan H. Samsu menegaskan 98 proyek tersebut dilaksanakan oleh anak usaha. Perinciannya, 47 proyek dilaksanakan oleh PT Pertamina EP, 29 proyek oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE), 19 proyek oleh PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), dua proyek oleh PT Pertamina EP Cepu (PEPC), dan satu proyek oleh PT PEPC ADK.

Proyek-proyek migas tersebut meliputi kegiatan untuk mempertahankan base production seperti kegiatan pemboran, konstruksi fasilitas produksi, pengembangan struktur temuan migas, serta pengembangan Enhance Oil Recovery (EOR). "Proyek-proyek ini penting mengingat perannnya dalam mempertahankan revenue generator hulu saat ini," kata Dharmawan H. Samsu.

Adapun kegiatan eksplorasi new ventures dilakukan melalui akses ke wilayah kerja (WK) eksplorasi baru dan investasi untuk melakukan survei sesmik regional.

Lebih lanjut Dharmawan H. Samsu menjelaskan, hingga April 2019, Pertamina telah menyelesaikan pemboran 77 sumur di Indonesia yang terdiri dari 72 sumur eksploitasi dan lima sumur eksplorasi di WK eksisting.

Sepanjang 2019 Pertamina berencana menyelesaikan 311 sumur pemboran eksplorasi dan eksploitasi di Indonesia dimana sekitar 38 persen berada di wilayah kerja Mahakam. “Pemboran Pertamina mendominasi realisasi pemboran migas di seluruh Indonesia. Komitmen pemboran ini adalah yang terbesar di Indonesia dalam rangka menjaga keberlangsungan produksi dari aset-aset eksisting," tegas Dharmawan H. Samsu.

Sememtara sebagai upaya menahan laju penurunan alamiah produksi, Pertamina juga melakukan program work over dan well intervention serta predictive maintenance yang dapat mengurangi potensi unplanned shutdown.

Dharmawan H. Samsu menjelaskan bahwa proyek pengembangan hulu migas Pertamina diharapkan mampu membantu penguatan produksi migas nasional. "Pengembangan ini diperlukan karena sebagian besar wilayah kerja Migas di Indonesia sudah membutuhkan pendekatan yang lebih khusus karena lapangan-lapangan tersebut sudah beroperasi lebih dari 40 tahun," kata Dharmawan H. Samsu.

Terkait pengelolaan lapangan migas di Indonesia, Dharmawan H. Samsu menggarisbawahi tiga hal yakni tingkat maturitas bawah tanah, fasilitas produksi di lapangan hulu serta upaya peningkatan cadangan dan produksi jangka panjang. Oleh karena itu, imbuh Dharmawan H. Samsu, Pertamina harus memastikan seluruh operasionalnya dilaksanakan dengan prudent dan sesuai kaidah operational excellence. Per April tahun 2019 ini, Total Recordable Injury Rate (TRIR) berada jauh di bawah toleransi.

Sementara prestasi yang dicapai anak perusahaan di sektor hulu pada tahun 2018 yakni 7 PROPER Emas dan 17 PROPER Hijau. Penilaian PROPER tersebut berhasil mencapai 100% persen Compliance dimana 24 dari 43 area mencapai Beyond Compliance.



Sumber: BeritaSatu.com