Mandiri Investasi Luncurkan Reksa Dana Pasar Uang dengan Fitur T-0

Mandiri Investasi Luncurkan Reksa Dana Pasar Uang dengan Fitur T-0
Kiri ke kanan: Halim Haryono - Deputi Direktur Pengawasan & Pengembangan Pengelolaan Investasi OJK, Alvin Pattisahusiwa - Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, dan Rino Donosepoetro - CEO Standard Chartered Bank Indonesia pada peluncuran Reksa Dana MIPU2, di Jakarta, Selasa (21/5/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 21 Mei 2019 | 22:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi), didukung oleh Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) sebagai bank kustodian, meluncurkan produk Reksa Dana Pasar Uang dengan likuiditas lebih tinggi, yaitu Reksa Dana Mandiri Investa Pasar Uang 2 (MIPU2). MIPU2 yang memiliki fitur pencairan (redemption) T+0, dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi para pengguna jasa layanan keuangan berbasis teknologi.

Direktur Utama Mandiri Investasi, Alvin Pattisahusiwa, mengatakan, MIPU2 berbeda dengan Reksa Dana pasar uang konvensional di pasar, karena menawarkan tingkat likuiditas yang lebih tinggi, yaitu pencairan dana di hari yang sama dengan saat order transaksi dilakukan, atau disebut dengan T+0.

"Pembelian Reksa Dana MIPU2 ini cukup atraktif karena dimulai hanya dari Rp 10.000, sehingga merupakan investasi yang dapat dijangkau bagi investor pemula yang ingin mulai berinvestasi dengan tingkat risiko rendah,” jelas Alvin di sela acara peluncuran MIPU2 di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Fitur T+0 ini dapat dilakukan melalui strategi pengelolaan MIPU2 yang berinvestasi pada instrumen pasar uang yang sangat likuid sehingga dana dari pencairan unit penyertaan bukan dari fasilitas atau penalangan, tetapi merupakan dana hasil order transaksi penjualan unit (redemption) investor yang akan dikreditkan oleh bank kustodian ke rekening bank nasabah dihari yang sama, dengan cut-off-time order transaksi jual pada jam pukul 10 pagi dimana investor akan mendapatkan dana hasil penjualan unit penyertaan dengan Nilai Aktiva Bersih hari yang sama.

"Produk ini sangat inovatif dikarenakan likuiditasnya yang sangat tinggi dengan waktu transaksi T+0 dan investasinya sangat terjangkau dan mudah dilakukan. Produk Reksa Dana T+0 ini baru pertama kalinya diluncurkan di pasar modal Indonesia,” tambah Alvin.

Sebagai pembanding, kata Alvin, saat ini dana dari hasil pencairan unit reksa dana pada umumnya baru dapat diterima oleh investor pada t+1 sampai t+3, atau satu sampai tiga hari setelah pencairan dilakukan.

"Dengan demikian fitur pencairan t+0 yang ditawarkan MIPU2 merupakan aspek yang sangat menarik bagi calon investor," tandas Alvin.

CEO Standard Chartered Bank Indonesia, Rino Donosepoetro, mengatakan, sebagai bank internasional dengan pengalaman lebih dari 155 tahun di Indonesia dan salah satu yang pertama mendapatkan lisensi bisnis kustodian dari OJK, pihaknya berkomitmen untuk terus berinovasi dengan terobosan produk dan layanan yang menjawab kebutuhan dan dinamika masyarakat.

"Kami senang sekali dapat menjadi mitra strategis Mandiri Investasi dalam meluncurkan reksa dana pertama di Indonesia dengan fitur T+0. Kemitraan ini merupakan bukti nyata peran kami dalam turut dalam turut mengembangkan investasi di industri pasar modal Indonesia, khususnya untuk pasar ritel. Ini juga sejalan dengan salah satu visi kami yaitu untuk menjadi bank kustodian nomor satu di Indonesia,” kata Rino Donosepoetro.

Saat ini, produk MIPU2 hadir di online platform milik Mandiri Investasi yaitu MOINVES dan akan juga segera diluncurkan di beberapa partner Agen Penjual Reksa Dana (APERD) terpilih.

Tidak berhenti sampai disitu, dalam waktu dekat Mandiri Investasi akan bekerja sama dengan beberapa platform online platform ternama di Indonesia untuk menyasar digital wallet guna mengoptimalkan dana-dana idle para pengguna melalui produk MIPU2 ini.

Produk investasi ini sangat aman karena dikelola oleh Mandiri Investasi dan diawasi oleh OJK. Mandiri Investasi memiliki visi menjadi manajer investasi terdepan dan terinovatif di Indonesia saat ini memiliki total dana kelolaan sejumlah Rp 55,3 triliun.



Sumber: BeritaSatu.com