Masuk Sektor Produktif, Kredit Pintar Garap Pertanian

Masuk Sektor Produktif, Kredit Pintar Garap Pertanian
Wisely Reinharda Wijaya selaku CEO Kredit Pintar (kiri) dan dan Kuseryansyah yang jugaKetua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).
Heriyanto / HS Kamis, 23 Mei 2019 | 10:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Kredit Pintar Indonesia atau Kredit Pintar membidik sektor produktif dengan menggarap bidang pertanian. Fasilitas yang dinamai Petani Pintar itu menawarkan akses pembiayaan petani yang mudah dan cepat guna mendukung pertumbuhan industri pertanian.

“Kehadiran produk Petani Pintar didasari oleh permasalahan yang sering dihadapi petani di Indonesia yaitu permodalan dalam melakukan usaha taninya,” kata Chief of Officer (CEO) Kredit Pintar Wisely Reinharda Wijaya di Jakarta, Rabu (22/5).

Dikatakan, produk Petani Pintar didasari oleh permasalahan modal yang sering dihadapi petani di Indonesia. Keterbatasan modal dapat mengakibatkan kuantitas dan kualitas yang dihasilkan tidak maksimal. Ini menjadi salah satu penyebab banyaknya petani hidup dibawah garis kemiskinan. "Kami ingin turut menjadi pendorong pertumbuhan sektor pertanian di Indonesia," kata Wisely.

Dengan demikian, Kredit Pintar mulau menggarap sektor produktif dari sebelumnya sudah menggarap sektor multiguna atau konsumtif sejak menerima tanda daftar dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai fintech legal beroperasi 6 April 2018 lalu.
“Strategi menggarap sektor produktif bukan berarti sektor konsumtif tengah jenuh. Namun karena masih banyak peluang di segmen ini terutama pertanian,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik terdapat 35,7 juta petani pada 2018. Selain itu luas lahan pertanian mencapai 7,1 juta hektar. Sedangkan potensi pembiayaan pada sektor pertanian mencapai Rp 120 triliun.

"Inilah yang bisa dimanfaatkan oleh Kredit Pintar. Selain itu, rasio pendapatan premi terhadap biaya produksi masih di bawah 1%. Kendala petani dalam mendapatkan pembiayaan mulai dari agunan, bunga yang tinggi, keterbatasan akses, literasi, hingga infastruktur," jelas Wisely.

Kredit Pintar meluncurkan Petani Pintar dengan dua produk yakni pinjaman Rp 1 juta dan Rp 2 juta. Adapun tenor yang ditawarkan selama 8 minggu. Skema pinjaman berupa tanggung renteng dengan anggota kelompok 5 hingga 10 orang. Sedangkan bunga yang ditetapkan sebesar 6,6% per tahun.

"Fokus target pinjaman adalah ibu rumah tangga baik yang memiliki suami petani atau ia sendiri yang petani. Berdasarkan riset kami, ibu-ibulah yang mengendalikan keuangan rumah tangga. Sedangkan tanggung renteng sebagai strategi meminimalisasi risiko," katanya.

Wisely mengaku menyasar segmen pertanian memiliki risiko yang lebih besar. Namun ia tetap menggarap segmen ini karena ada dorongan dari OJK. Sekaligus membuktikan bahwa fintech peer to peer lending konsumtif juga bisa membidik sektor produktif. Ia menyebut setelah menggarap segmen pertanian, Kredit Pintar juga akan menyasar segmen lainnya seperti transportasi dan invoice financing.

 



Sumber: Suara Pembaruan