Stabilitas Harga Pangan Redam Gejolak Politik

Stabilitas Harga Pangan Redam Gejolak Politik
Ilustrasi sembako dan kebutuhan bahan pangan. ( Foto: Antara/Aditya Pradana Putra )
Ridho Syukro / FER Rabu, 12 Juni 2019 | 20:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah dinilai berhasil menjaga stabilitas harga pangan jelang Hari Raya Idulfitri. Berbagai kalangan optimistis dengan hasil kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menciptakan situasi politik yang stabil. Ketersediaan pangan dan stabilnya harga selama tiga tahun berturut-turut juga menjadi penegas pemerintahan yang lebih kuat jelang periode kedua.

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengakui, stabilitas harga pangan ini berpengaruh terhadap stabilitas politik di Tanah Air jelang perayaan Lebaran. Situasinya tetap aman dan terkendali setelah sempat memanas saat hasil Pemilu 2019 diumumkan.

"Semasa bulan puasa dan Lebaran, harga pangan memang mengalami kenaikan. Tapi kondisinya masih terbilang wajar. Ada naiknya juga. Tapi bisa meredam situasi politik, Ujar Anwar Abbas dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Selasa (12/6/2019).

Direktur Riset Lembaga Kajian Visi Teliti Saksama, Nugroho Pratomo, memastikan, kenaikan harga pangan yang terjadi selama bulan Ramadan masih dalam konteks yang wajar karena ada peningkatan permintaan. Menurutnya, pemerintah tetap berhasil mengendalikan kenaikan harga pangan.

"Memang, ada kenaikan. Tapi, masih dalam konteks wajar karena ada peningkatan permintaan. Kalau dalam data BPS, kenaikan harga pangan terjadi pada Juni 2019," ujar Nugroho.

Menurut Nugroho, kestabilan harga dan ketersediaan pangan ini telah memberikan iklim yang sejuk pada situasi politik Indonesia. Kementerian Perdagangan (Kemdag) dinilai mampu menjaga ketersediaan bahan pokok dengan harga yang relatif stabil.

"Isu ketersediaan pangan pada dasarnya merupakan salah satu isu yang cukup sensitif," tegas Nugroho.

Nugroho menilai, kemampuan pemerintah memenuhi ketersediaan pangan ini juga membuat legitimasi pemerintahan Jokowi lebih kuat jelang masa periode keduanya. Apalagi keberhasilan pemerintahan Jokowi mengendalikan harga kebutuhan pokok selama bulan suci Ramadan ini tak hanya terjadi di tahun 2019 saja.

"Situasi serupa terjadi pada tahun sebelumnya. Setidaknya, sudah 3 tahun berturut-turut perayaan Idulfitri, harga bahan pokok bisa dikendalikan," tandas Nugroho.

Wakil Ketua Komisi VI DPR, Azam Azman Natawijana, mengakui terjadinya kestabilan harga pangan saat bulan suci Ramadan dan Hari Raya Lebaran.

"Situasi ini secara tak langsung berpengaruh dengan stabilitas politik Indonesia. Stabilitas harga pangan ini terutama bisa meredam gejolak politik," kata Azam.



Sumber: Investor Daily