Perusahaan Fintech Hensel Davest Bidik Dana IPO Rp 214 Miliar

Perusahaan Fintech Hensel Davest Bidik Dana IPO Rp 214 Miliar
CEO PT Hensel Davest Indonesia Tbk Hendra David (kanan) bersama dengan Chief Technology Officer PT Hensel Davest Indonesia Tbk Edwin Hosan (kedua dari kanan), Chief Financial Officer PT Hensel Davest Indonesia Tbk Daniar Akhmad Akhiri (kedua dari kiri), Chief Of Investor Relation & Legal Ferdiana Tjahyadi (kiri), memberikan keterangan pers saat paparan publik PT Hensel Davest Indonesia Tbk, Jakarta, Selasa 18 Juni 2019. PT Hensel Davest Indonesia Tbk, perusahaan dibidang e-commerce serta pendistribusian produk digital melakukan paparan publik dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham sebanyak-banyaknya sebesar 381.170.000 saham atau sebesar 25,00% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah Penawaran Umum Perdana Saham dari perseroan dengan nilai nominal Rp. 100. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 18 Juni 2019 | 14:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan distribusi produk digital, perdagangan online (e-commerce) dan teknologi PT Hensel Davest Indonesia Tbk, akan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) maskimal 381.170.000 lembar saham atau 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan rentang harga IPO Rp 396 per saham hingga Rp 525 per saham, maka perusahaan yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan ini berpotensi meraup dana segar dari bursa sekitar Rp 150 miliar hingga Rp 214 miliar.

"Jika nanti listing, PT Hensel Davest Indonesia Tbk akan menjadi fintech pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)," kata Direktur Utama PT Hensel Davest Indonesia Tbk, Hendra David saat paparan publik IPO perseroan di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Hendra David menjelaskan sekitar 65 persen dana IPO untuk akuisisi marchant berupa UMKM (warung) dan individu, pembelian persediaan barang dagang, uang muka persedian barang dagang dan pembiayaan piutang usaha kepada pelanggan. Sementara sekitar lO persen akan digunakan untuk meningkatkan teknologi komunikasi informasi, serta pengembangan SDM. Sisanya sekitar 25 persen untuk pembelian bangunan dalam rangka operasional perusahaan.

Hendra David mengungkapkan, perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola konsumsi di era digital saat ini tantangan sekaligus potensi pasar yang menjanjikan untuk perusahaan berbasis teknologi (e-commerce) di Indonesia. "Terlebih kita akan memasuki era revolusi industri 4.0," kata Hendra David.

Menurut data, perekonomian digital Indonesia akan tumbuh dari US$ 7,8 miliar di 2015 menjadi US$ 78,8 miliar di 2025, dengan pertumbuhan terbesar adalah sektor e-commerce dan teknologi finansial. "Pertumbuhan ini akan menjadikan lndonesia sebagai negara dengan perekonomian digital terbesar di Asia Tenggara,” lanjut Hendra David.

Perseroan didirikan sejak 2013 sebagai perusahaan yang memproses transaksi multi-biller. Dimulai dari pulsa elektrik kemudian mengembangkan usaha ke prepaid listrik dan biller lainya seperti BPJ S dan PDAM. Berfokus di sektor B2B hingga di tahun 2015 meluncurkan aplikasi DavestPay untuk menyasar segmen B2C. Saat ini, perseroan memiliki lebih dari 150.000 jaringan agen yang tersebar di seluruh Indonesia dan memproses lebih dari 600.000 transaksi dari ratusan produk per harinya.

Dalam IPO ini, bertindak sebagai penjamin emisi yaitu PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Perseroan merencanakan periode bookbuilding pada 17-24 Juni 2019 dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Juli 2019.



Sumber: BeritaSatu.com