Indospring Jajaki Pasar AS dan Afrika

Indospring Jajaki Pasar AS dan Afrika
Jajaran direksi dan komisaris PT Indospring Tbk usai Paparan Publik hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) d Surabaya, Rabu (19/6/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Amrozi Amenan )
Amrozi Amenan / FER Rabu, 19 Juni 2019 | 23:01 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - PT Indospring Tbk menggenjot penjualan ekspor dengan mencari terobosan pasar ekspor baru untuk mengimbangi penjualan di pasar dalam negeri yang stagnan. Produsen pegas ini, akan menjajaki pasar baru di Amerika Serikat (AS) dan Afrika.

Direktur Utama Indospring, Ikawati Nurhadi, mengatakan, terobosan pasar ekspor baru diperlukan saat pasar dalam negeri yang sekarang sedang stagnan. Tingginya permintaan pasar dalam negeri selama ini membuat perseroan kurang fokus pada pengembangan pasar ekspor dengan mencari pasar baru.

"Nah, ketika pertumbuhan ekonomi dan pasar dalam negeri stagnan seperti sekarang, mau nggak mau kita harus mencari pasar baru di luar. Meski demikian, kita akan tetap mengutamakan pasar dalam negeri,” katanya saat paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) PT Indospring Tbk di Surabaya, Rabu (19/6).

Menurut Ikawati, perang dagang antara AS dan Tiongkok mendorong adanya permintaan produk perseroan terutama dari pasar AS dan Afrika yang selama ini menyerap produk dari Tiongkok.

"Kami menjadikan ini peluang bagi perseroan untuk mengembangkan pasar ekspor untuk meningkatkan penjualan ekspor serta mengimbangi permintaan pasar domestik," kata Ikawati.

Ikawati mengatakan, meskipun pasar dalam negeri saat ini stagnan perseroan tetap menyiapkan produk-produk baru untuk investasi jangka panjang. Tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 250 miliar untuk program peremajaan dengan melakukan investasi mesin baru dan menyiapkan produk baru seperti stabilizer bar.

"Harapan kami produksi produk baru ini bisa terealisasi pada tahun depan karena sudah mendapatkan sinyal baik dari pabrikan mobil,” terang Ikawati.

Direktur PT Indospring Tbk, Bob Budiono, mengatakan, perseroan memiliki tiga pasar untuk produknya, yakni pabrikan (OEM/Original Equipment Manufacturer), layanan purna jual (after sales) dan pasar ekspor. Ketika penjualan salah satu pasar tersebut stagnan, maka bisa diganti oleh pasar yang lain.

"Ketika pasar domestik lesu, kita harapkan pasar OEM dan ekspor bisa menjadi substitusi," papar Bob.

Bob menyatakan, perseroan tahun memproyeksikan penjualan sama seperti capaian tahun lalu mengingat kondisi ekonomi global dan nasional masih belum membaik dan pasar juga belum bergairah. Industri otomotif di dalam negeri yang stagnan tahun ini seiring dengan harga komoditas seperti sawit, karet dan batu bara yang belum membaik.

"Kami proyeksikan penjualan kami tahun ini hanya Rp 2,4 triliun sama seperti tahun lalu. Hingga kuartal pertama 2019, penjualan sudah mencapai Rp 573 miliar sama seperti di kuartal pertama tahun lalu," imbuh Bob.

Sementara laba perseroan tahun ini diproyeksikan akan turun, di antaranya laba bruto diproyeksi Rp 360 miliar atau turun 0,8 persen dibandingkan 2018, laba usaha Rp 138 miliar turun 6,6 persen, dan laba bersih Rp103 miliar turun 7,1 persen. "Hingga kuartal pertama 2019, laba bersih perseroan turun 19,3 persen dari Rp 28 miliar menjadi Rp 22 miliar," terang Bob.

Bob menambahkan, meskipun kondisi perekonomian yang melambat selama 2018, perseroan mampu mencatatkan kinerja yang cukup baik. Penjualan 2018 tercatat mencapai Rp 2,4 triliun atau meningkat 22 persen dibandingkan 2017 atau mengalami pertumbuhan rerata 21 persen dalam 3 tahun terakhir. Sedangkan laba kotor Rp363 miliar atau 1,8 persen di atas budget tapi sedikit menurun jika dibandingkan dengan tahun 2017.

"Dengan terobosan pasar eskpor baru berbekal teknologi yang kita miliki serta menciptakan entitas baru dengan melakukan pengalihan fasilitas flat bar untuk memproduksi alat-alat pertanian kita berharap kinerja bisa terjaga sama seperti tahun lalu,” pungkas Bob.



Sumber: Investor Daily