Tanpa Sawit, Ekonomi Indonesia Lesu

Tanpa Sawit, Ekonomi Indonesia Lesu
Para pembicara di acara Talk Show Milenial Bareng Sawit: Gue Generasi Sawit di FX Sudirman, Jakarta, Rabu, 19 Juni 2019. (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana) ( Foto: Investor Daily/Gora Kunjana )
L Gora Kunjana / AO Kamis, 20 Juni 2019 | 07:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia sebagai negara penghasil sawit terbesar di dunia harus menjadi kebanggaan seluruh warga negara. Pasalnya, saat ini industri sawit tak bisa dimungkiri menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional.

“Bahkan bisa dikatakan tanpa sawit, ekonomi Indonesia bisa lesu,” kata Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di acara talk show "Milenial Bareng Sawit: Gue Generasi Sawit" di FX Sudirman, Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Menurut Tofan, sumbangan sawit kepada ekonomi Indonesia tak bisa dipandang sebelah mata. Industri sawit memberikan kontribusi kepada devisa negara sekitar US$ 20,54 miliar pada 2018. “Industri sawit juga menyerap banyak tenaga kerja. Setidaknya 19 juta jiwa hidup dari sawit,” kata Tofan di hadapan sekitar 300-an mahasiswa.

Diketahui kelapa sawit dan produk turunannya hidup berdampingan dengan masyarakat Indonesia. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, orang tidak terlepas dari peran sawit. “Kita sebagai masyarakat Indonesia harus berbangga diri dengan kekayaan sumber daya yang kita miliki ini,” katanya.

Senada dengan Tofan Mahdi, Corporate Secretary BPDPKS Achmad Maulizal Sutawijaya mengatakan bahwa kelapa sawit sekarang sudah menjadi salah satu tulang punggung bangsa dan negara Indonesia. “Karena sawit tidak hanya sebagai bahnn makanan, tapi juga sebagai bahan kosmetik, dan bahkan sudah menjadi sumber bahan baku biodiesel melalui program B20, sekarang B30 dan ke depannya sampai B100,” katanya.

Produk Unggulan
Lebih jauh Tofan mengatakan bahwa sawit merupakan blessing in disguise bagi Indonesia. Tanaman asal Afrika yang telah hadir dan dibudidayakan sejak 1878 di Nusantara ini, justru berkembang baik dan menjadi berkah bagi perekonomian Indonesia.

“Kita menjadi penghasil terbesar di dunia diikuti Malaysia. Perkembangan sawit dengan berbagai produk turunannya ini harus kita jaga agar tetap menjadi produk unggulan Indonesia,” tuturnya.

Untuk itu, tandas Tofan, semua stakeholder di perkelapasawitan memiliki tanggung jawab bersama untuk memberikan informasi yang benar tentang sawit. Industri ini bukan industri yang membahayakan seperti yang gencar dikabarkan oleh Uni Eropa dan LSM asing sebagai black campaign sawit.

Tofan menandaskan hal itu semata-mata adalah persaingan bisnis di sektor minyak nabati. Produk Uni Eropa dan Amerika seperti soya, bunga matahari, rapeseed, saat ini kalah bersaing dengan sawit Indoneaia. “Sejak sawit kita menjadi nomer satu itulah terus kemudian berbagai kampanye negatif muncul mendeskreditkan minyak sawit,” jelasnya.

Menurut Tofan, industri sawit memilki masa depan cerah. “Yang perlu terus digaungkan kepada semua lapisan masyarakat adalah sawit telah memberikan manfaat bagi kita semua. Tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk dunia,” katanya.

Dalam talk show yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Warta Ekonomi tersebut, selain Tofan Mahdi dan Achmad Maulizal Sutawijaya, hadir juga sebagai pembicara Pemred dan CEO Warta Ekonomi Muhamad Ihsan, Head Of Corporate Affairs and Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana B Darus, dan Senior Food Technologies PT Garuda Food Putra Putri Jaya Tbk Brury Wijaya.

Talk show menghadirkan para pembicara dari asosiasi dan perusahaan yang menggunakan sawit dimaksudkan untuk jembatan informasi yang tepat bagi generasi milenial, mahasiswa, pengusaha pemula dan lain-lain untuk mengenal lebih dalam soal sawit dan produk-produk turunannya serta peluang-peluang yang bisa diciptakan dari kelapa sawit.



Sumber: Investor Daily