Pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok Akan Sehari Penuh Selama 7 Hari

Pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok Akan Sehari Penuh Selama 7 Hari
Aktivitas bongkar muat di terminal peti kemas yang dioperasionalkan oleh NPH di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 7 Februari 2017. ( Foto: BeritaSatu Photo / mohammad defrizal )
Thresa Sandra Desfika / CAH Minggu, 7 Juli 2019 | 18:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta akan dilaksanakan 24 jam dan 7 hari seminggu. Hal ini dilakukan guna meningkatkan jumlah ekspor melalui pelabuhan tersebut.

Menhub mengatakan, telah menyisir upaya-upaya yang bisa meningkatkan ekspor. Ia mengakui ada beberapa hal yang memang harus ditingkatkan, salah satunya adalah meningkatkan waktu operasional pelayanan di Pelabuhan Tanjung Priok.

“Berkaitan dengan jumlah hari produktif pelayanan, sebelum ini 3 hari, sekarang sudah 4-5 hari, kita ingin 7 hari. Artinya 24/7 kita melayani. Agar orang-orang yang melayani di sini waktunya tersebar dan fasilitas tol, truk itu terbagi rata di 7 hari sehingga produktivitas itu lebih baik,” ucap Budi usai mengadakan rapat dengan jajaran stakeholders Pelabuhan Tanjung Priok di Kantor Bea Cukai Tipe A Tanjung Priok, Jakarta pada Minggu (7/7/2019).

Menhub mengilustrasikan, dengan waktu pelayanan 3 hari, apabila ada eksportir yang ingin mengirim 14 kontainer barang, maka dalam satu hari harus ada 5 truk kontainer yang berjalan dalam sehari. Namun jika waktu pelayanan menjadi 7 hari maka dalam satu hari hanya dibutuhkan 2 truk kontainer saja. Imbasnya hal ini akan membuat jalanan dari dan menuju pelabuhan menjadi tidak terlalu padat sehingga efek positifnya dapat mengurangi jumlah kemacetan.

"Jadi jalannya lengang, truknya produktif yang di pelabuhan juga enak mengaturnya. Dengan lengang itu maka kecenderungan untuk melakukan kegiatan ekspor khususnya itu bertambah. Pasti bertambah. Karena kemudahan itu equivalen dengan pertambahan jumlah. Kalau ini semua lancar maka otomatis yang ekspor juga menjadi lebih banyak,” jelas Budi Karya.

Selanjutnya yang juga menjadi pusat perhatian Menhub adalah kontainer kosong dalam impor barang. Menurut dia, banyak kontainer setelah melakukan proses impor barang, truk-truk kontainer tersebut berjalan dalam keadaan tanpa muatan atau kosong. Karena itu, hal ini akan dikoordinasikan lebih lanjut agar truk-truk tersebut tidak berjalan dalam keadaan kosong.

“Truk banyak yang berjalan kosong. Setelah impor, dia kosong, dia dibawa ke Cikarang ke sini (Tanjung Priok) kosong. Kita akan minta kepada pemilik kargo atau shipping line untuk menyiapkan supaya jangan ada truk yang kosong. Jadi kita upayakan itu dalam keadaan terisi,” ujar Budi Karya.

Kemudian yang menjadi sorotan Menhub adalah masalah sistem. Perlu ada satu sistem yang mengatur keseluruhannya.

“Dan terakhir adalah sistem. Kita akan tingkatkan koordinasi INSW, Inaportnet. Dengan Bea Cukai, Pelindo, Syahbandar, otoritas pelabuhan bersama Ditjen Perhubungan Laut akan kita rapatkan minggu depan agar sistemnya itu menjadi satu,” papar Budi Karya.



Sumber: BeritaSatu.com