Neraca Perdagangan Defisit, Jokowi Tegur Dua Menterinya

Neraca Perdagangan Defisit, Jokowi Tegur Dua Menterinya
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) ( Foto: Beritasatu TV )
Aichi Halik / AHL Senin, 8 Juli 2019 | 17:52 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegur dua menterinya dalam sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (8/7/2019).

Teguran itu ditujukan Jokowi kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, terkait defisit neraca perdagangan Indonesia dari Januari hingga Mei 2019 yang mencapai USD2,14 miliar.

"Neraca perdagangan kita Januari sampai Mei ada defisit USD2,14 miliar. Coba dicermati angka ini dari mana, kenapa impor sangat tinggi. Migas juga naiknya besar sekali. Hati-hati di migas Pak Menteri ESDM, Bu Menteri BUMN, karena paling banyak ada di situ," kata Jokowi.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia Januari-Mei 2019 menurun 8,61 persen dibanding periode yang sama di 2018. Sedangkan, nilai impor Januari-Mei 2019 juga turun 9,2 persen.

Jokowi meminta agar menterinya bisa memanfaatkan peluang dari perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Ia menilai peluang ekspor ke Amerika Serikat cukup besar.

"Sekali lagi ini peluang, tekstil itu peluang. Besar-besar sekali furnitur itu peluang. Inilah yang selalu kita kalah memanfaatkan peluang, ada opportunity tidak bisa kita ambil karena insentif-insentif itu tidak kita berikan," ungkap dia.

Presiden ingin pemerintah memberikan insentif seperti bunga kepada pengusaha untuk meningkatkan ekspor karena para pengusaha tak bisa menembus pasar jika tak diberikan intensif.

"Pemerintah ini mestinya memberikan insentif-insentif terhadap peluang yang ada. Kalau kita hanya melakukan rutinitas tanpa memberikan insentif khusus kepada eksportir yang kecil maupun besar dan sedang maka sulit bagi mereka untuk menembus pasar-pasar baru," jelas Jokowi.



Sumber: BeritaSatu TV