Deretan Asuransi Berprestasi 2019

Deretan Asuransi Berprestasi 2019
Ketua Dewan Juri Asuransi Terbaik 2019 Herris B. Simandjuntak (tiga dari kiri) bersama anggota juri (kiri-kan) Ketut Sendra, Tri Joko Santoso, Diah Sofiyanti, S. Budisuharto, Primus Dorimulu (kanan) berfoto usai penjurian pertama Asuransi Terbaik 2019 di kantor Beritasatu Media Holdings di Beritasatu Plaza Jakarta, Rabu (12/6). Penganugerahan akan di gelar pada bulan Juli 2019 di Jakarta ( Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR )
Frans Imung / HA Selasa, 9 Juli 2019 | 09:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Fluktuasi ekonomi dunia yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir sangat mempengaruhi kinerja dunia usaha di berbagai sektor. Dunia keuangan yang rentan diguncang sentimen negatif tentu saja ikut merasakan dampaknya. Demikian juga dengan industri asuransi, baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. Hanya perusahaan asuransi dengan strategi mumpuni di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, yang tetap mampu mencatat pertumbuhan positif.

Salah satu indikator untuk menilai kekuatan kinerja perusahaan asuransi adalah kemampuan mendulang premi neto selama tahun berjalan. Selama tahun 2018, dari 10 asuransi jiwa dengan nilai premi neto terbesar, ada empat perusahaan asuransi mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Enam asuransi jiwa lain mencatat kenaikan premi neto. Sedangkan pada kelompok 10 besar asuransi umum, hanya dua perusahaan yang mengalami penurunan premi neto selama 2018 dibanding tahun 2017.

Pada kelompok asuransi jiwa, persentase kenaikan premi neto terbesar diraih PT Capital Life Indonesia sebesar 36,8% disusul PT AIA Finansial Indonesia dengan kenaikan 21%. Posisi ketiga ditempati PT Asuransi Simas Jiwa dengan kenaikan 16,3%. Jika dilihat dari nilai premi neto terbesar selama 2018, posisi teratas ditempati PT Prudential Life Assurance, disusul Asuransi Simas Jiwa dan AIA Finansial Indonesia. Total nilai premi neto Prudential selama 2018 mencapai Rp 22,83 triliun, turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 24,28 triliun. Sedangkan premi neto Simas Jiwa sebesar Rp 19,06 triliun, dan premi neto AIA Finansial Rp 11,94 triliun.

Pada kelompok asuransi umum, PT Asuransi Sinar Mas mencatat kenaikan premi neto sebesar 57,89% menjadi Rp 3,18 triliun. Prestasi Sinar Mas sekaligus menyegel posisi pertama pada deretan 10 besar asuransi umum dengan premi neto terbesar selama 2018. Posisi kedua ditempati PT Asuransi Kredit Indonesia dengan kenaikan 17,6% disusul PT Asuransi Bangun Askrida dengan kenaikan 15,74%.

Sementara itu, posisi kedua asuransi umum peraih premi terbesar 2018 ditempati PT Asuransi Astra dengan perolehan premi Rp 3,11 triliun, tumbuh 4,8% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,97 triliun. Posisi ketiga ditempati Asuransi Kredit Indonesia dengan premi neto Rp 2,59 triliun, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,2 triliun.

Prestasi yang diraih kalangan asuransi jiwa, asuransi umum, maupun reasuransi menentukan keberhasilan perusahaan-perusahaan ini meraih predikat Asuransi Terbaik 2019 versi Majalah Investor. Kepastian tentang perusahaan asuransi yang meraih predikat terbaik pada masing-masing kelompok aset akan diumumkan pada event Best Insurance Award 2019 yang digelar tanggal 18 Juli 2019.

Pemeringkatan asuransi tahun ini didukung dewan juri profesional dan berpengalaman, yang diketuai Herris Simanjuntak, mantan CEO Jiwasraya. Anggota dewan juri masing-masing: Diah Sofianty, direktur utama Indopremier Asset Management, I Ketut Sendra, dosen hukum dan Sekretaris Badan Mediasi Asuransi Indonesia, S. Budisuharto, mantan direktur AIG Lippo Life dan direktur Siloam Hospital, Tri Djoko Santoso, mantan direktur Panin Life dan Chairman Financial Planning Standards Board (FPSB) Indonesia

Kriteria Pemeringkatan
Pemeringkatan asuransi tahun ini menggunakan 15 kriteria. Kriteria untuk asuransi umum meliputi, pertumbuhan aset rata-rata 2014–2018, pertumbuhan jumlah investasi rata-rata 2014–2018, pertumbuhan ekuitas rata-rata 2014–2018, pertumbuhan premi penutupan langsung 2014-2018, pertumbuhan premi neto rata-rata 2012-2016, pertumbuhan hasil underwriting rata-rata 2014–2018, pertumbuhan hasil investasi rata-rata 2014–2018, pertumbuhan laba bersih rata-rata 2014–2018, pangsa pasar premi neto tahun 2018, rasio underwriting terhadap premi neto 2018, rasio kecukupan investasi, TATO (total asset turn over) 2018, ROA (return on assets) 2018, ROE (return on equity) 2018, dan RBC (risk-based capital) 2018.

Sementara itu, kriteria untuk asuransi jiwa mayoritas sama dengan asuransi umum, kecuali kriteria pertumbuhan premi penutupan langsung rata-rata 2014–2018 yang khusus berlaku untuk asuransi umum. Lalu pertumbuhan hasil underwriting rata-rata 2014–2018 dan rasio underwriting terhadap premi neto yang berlaku untuk asuransi umum.

Tidak semua perusahaan asuransi diperingkat. Ada seleksi awal yang meliputi, laporan keuangan 2018 yang dipublikasi harus sudah diaudit, laporan keuangan 2018 tidak mendapat opini disclaimer, RBC minimal 120%, masih beroperasi hingga pemeringkatan ini dibuat, tidak dalam status PKU (pembatasan kegiatan usaha) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tidak dalam kondisi khusus (run off, masa transisi, dll), ekuitas minimal Rp 100 miliar, aset asuransi umum tahun 2018 di atas Rp 500 miliar, aset asuransi jiwa tahun 2018 di atas Rp 1 triliun, tidak menderita rugi tahun 2018, dan data kinerja keuangan harus lengkap.



Sumber: Majalah Investor