Perhatikan Hal Ini Agar Terhindar dari Investasi Bodong

Perhatikan Hal Ini Agar Terhindar dari Investasi Bodong
Direktur Bareksa.com Niputu Kurniasari (kiri) dan Deputi Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Halim Haryono (kanan) dalam peluncuran platform Bareksa Umroh di kawasan restauran Eastern Opulen Jakarta (10/07/2018). ( Foto: Beritasatu Photo / Azfar Muhammad )
Herman / FER Rabu, 10 Juli 2019 | 16:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penipuan investasi atau sering disebut dengan istilah investasi bodong masih marak terjadi di masyarakat. Meskipun sudah banyak memakan korban, masih ada saja yang tergiur tawaran investasi tersebut.

Kepala Bagian Hubungan Kelembagaan dan Informasi Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dien Sukmarini menyampaikan, masyarakat yang menjadi korban investasi bodong ini biasanya tergiur keuntungan yang besar dengan nol risiko. Padahal, tidak ada satu pun investasi yang tanpa risiko.

"Banyak sekali tawaran investasi ilegal di luar sana yang ditawarkan oleh seperti seorang motivator, sangat meyakinkan. Mereka juga menjanjikan return yang sangat tinggi, bahkan bilangnya bebas risiko. Kalau menjanjikan seperti itu, sudah pasti ada maksud lain," kata Dien Sukmarini, di peluncuran Bareksa Umrah, di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Agar tidak menjadi korban investasi bodong, saran Dien kenali dulu lembaga yang menawarkan investasi tersebut. Pastikan sudah terdaftar di OJK yang datanya bisa dengan mudah dilihat di website resmi OJK.

"Investasi bodong juga sering berjualan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), padahal itu hanya surat izin untuk usaha saja. Sementara kalau pihak-pihak seperti reksa dana, aset management-nya terdaftar di OJK. Di setiap iklan pun diwajibkan untuk mencantumkan kalau lembaga ini diawasi dan terdaftar di OJK," urainya.

Dien menambahkan, investasi bodong juga sering kali menyalahgunakan testimoni dari tokoh agama maupun tokoh masyarakat untuk meyakinkan calon nasabah. Padahal seringkali mereka tidak tahu kalau sudah dimanfaatkan untuk menjerat nasabah.

Hal penting lainnya yang juga harus diperhatikan apabila ingin berinvestasi adalah menyesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya apabila investasi tersebut untuk kebutuhan jangka pendek kurang dari satu tahun, jangan memilih reksa dana saham.

"Ada seorang teman yang memilih investasi reksa dana saham untuk kebutuhan resepsi pernikahan yang kurang satu tahun lagi. Ternyata waktu itu reksa dan saham lagi turun dan uangnya tergerus. Jadi kalau untuk kebutuhan jangka pendek atau kurang dari satu tahun, sebaiknya tidak pilih reksa dana saham. Bisa pilih yang reksa dana pasar uang," pesan Dien.

Selain itu, perlu juga untuk melihat karakter diri sendiri. Apakah lebih suka yang berisiko rendah atau justru tertantang dengan risiko yang tinggi untuk mendapatkan return yang lebih besar. "Jadi sebenarnya harus disesuaikan juga dengan personal kita," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com