Berkat Tol Laut, Harga-harga Barang Turun

Berkat Tol Laut, Harga-harga Barang Turun
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berbincang dengan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kiri) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) ketika berlayar menuju Bunaken di Sulawesi Utara, Jumat, 5 Juli 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Puspa Perwitasari )
Herman / FMB Rabu, 17 Juli 2019 | 15:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Memperkuat konektivitas antarwilayah di Indonesia merupakan salah satu visi misi dari Presiden Jokowi. Hal itu diterjemahkan dalam berbagai kegiatan, salah satunya melalui pengembangan tol laut. Wilayah Indonesia Timur menjadi sasaran kegiatan tersebut lantaran masyarakatnya belum mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kegiatan ekonomi secara maksimal, dan juga adanya persoalan disparitas harga akibat akses yang masih sulit.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyampaikan, kegiatan tol laut ini dilakukan untuk membuka aksesibilitas dalam upaya mencapai pemerataan ekonomi, memberikan stimulus bagi kawasan Indonesia Timur, dan juga mengurangi masalah disparitas harga. Untuk mendukung kegiatan tersebut, pemerintah juga telah membangun lebih dari 24 pelabuhan tol laut.

“Tol laut adalah salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi disparitas harga semen, beras, harga minyak dan sembilan bahan pokok lainnya. Sejauh ini, kegiatan tol laut sudah memberikan dampak yang baik. Harga barang-barang jadi lebih murah sekitar 20 persen sampai 40 persen,” kata Budi Karya Sumadi, di acara FGD yang diadakan Suara Pembaruan dan DPD dengan mengangkat tema ‘Optimalisasi Visi Negara Maritim Dalam Pembangunan Daerah’, di Hotel Manhattan, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Diakui Menhub, pelaksanaan kegiatan tol laut untuk mengurangi disparitas harga di beberapa daerah memang belum berjalan maksimal. Salah satunya penyebabnya akibat ulah para spekulan yang menyebabkan harga menjadi tetap tinggi. Di beberapa daerah, harga yang murah hanya bisa dinikmati selama sepekan saja. Ketika pasar sudah kosong, pedagang besar yang sudah memborong barang-barang tersebut kemudian menjualnya dengan harga yang tinggi.

“Saat kita mengirim barang, yang menerima bukan end user, tetapi ‘jagoan-jagoannya’ yang ada di daerah tersebut. Sehingga barang-barang yang dikirim tidak bisa dinikmati oleh masyarakat kebanyakan, hanya segelintir saja. Tetapi ini hanya terjadi di beberapa tempat saja. Kita bersama dengan Pemda juga sedang mengefektifkan supaya barang yang dikirimkan bisa terdistribusi dengan baik,” kata Menhub.

Melihat potensi yang luar bisa dari daerah-daerah di wilayah Indonesia Timur, pemerintah juga telah membuat suatu format dalam upaya memaksimalkan pelaksanaan kegiatan tol laut. Menhub mencontohkan potensi ikan laut yang ada di Dobo, Provinsi Maluku.

“Di Dobo, ikannya banyak sekali. Selama ini nelayan-nelayan dari Jawa Tengah datang ke sana mondar-mandir bawa ikan. Kita kemudian mempunya suatu format, ikan laut itu dikumpulkan di suatu tempat dan tol laut datang ke sana, sehingga tidak membutuhkan effort yang berlebihan. Saya pikir kita bisa fokus di beberapa wilayah yang memang punya potensi besar. Contoh lainnya di Biak, di sana ikannya bagus-bagus dan untuk mengangkutnya menggunakan flight. Tetapi karena flight mahal, kita perlu format yang baru untuk menyelesaikan masalah itu,” kata Menhub.



Sumber: BeritaSatu.com