BI Pangkas Suku Bunga 25 Bps

BI Pangkas Suku Bunga 25 Bps
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan kepada media terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis 15 November 2018. Dalam keterangannya, Bank Indonesia pada 14-15 November 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%, dimana keputusan tersebut sebagai langkah lanjutan Bank Indonesia untuk memperkuat upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Kamis, 18 Juli 2019 | 16:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juli 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen setelah menahan suku bunga selama delapan bulan berturut-turut di 6,00 persen sejak November tahun lalu. Sementara itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 5,00 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50 persen.

Pertimbangan menurunkan suku bunga berdasarkan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas eksternal yang terkendali.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk mempertahankan stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA)," tulis BI dalam keterangan resminya.

BI memperkirakan ketegangan hubungan dagang yang berlanjut terus menekan volume perdagangan dunia dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Perekonomian AS diprakirakan tumbuh melambat akibat ekspor yang menurun sebagai dampak ketegangan hubungan dagang, stimulus fiskal yang terbatas, serta keyakinan pelaku ekonomi yang belum kuat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2019 diprakirakan relatif sama dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 berada di bawah titik tengah kisaran 5,0-5,4 persen.

Nilai tukar rupiah menguat sehingga mendukung stabilitas eksternal. Penguatan rupiah berlanjut pada Juli 2019, yakni 1,06 persen sampai 17 Juli 2019 secara point to point dibandingkan dengan level akhir Juni 2019. Penguatan ini ditopang oleh peningkatan credit rating oleh S&P.



Sumber: BeritaSatu.com