Majalah Investor Ingatkan Industri Asuransi tentang IFRS 17

Majalah Investor Ingatkan Industri Asuransi tentang IFRS 17
Dewan Juri - Ketua Dewan Juri Herris Simandjuntak (dua dari kanan) bersama anggota juri (ki-ka) Primus Dorimulu, I Ketut Sendra, Diah Sofiyanti, Tri Djoko Santoso saat acara Investor Awards Best Insurance 2019 di Jakarta, Kamis (18/7). ( Foto: Beritasatu Photo / Uthan AR )
Prisma Ardianto / FMB Jumat, 19 Juli 2019 | 10:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Majalah Investor menggelar acara Best Insurance 2019 bagi perusahaan terbaik yang membukukan keuntungan investasi selama 2018. Adapun tema yang dipih ialah Bom Waktu International Financial Reporting System (IFRS) 17.

Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holding (BSMH) Primus Dorimulu mengatakan, nantinya perusahaan asuransi perlu menerapkan IFRS 17 untuk kepentingan industri asuransi dan nasional. Peraturan yang rencananya berlaku pada 2022 tersebut sudah harus mulai disiapkan.

"Tema ini dipilih untuk mengingatkan bahwa akan dilaksanakan pada 2022. Jika tidak dilakukan, ini (IFRS 17) akan menjadi bom waktu yang akan membawa banyak guncangan bagi perusahaan asuransi kalau tidak siap," kata Primus.

Lebih lanjut, IFRS 17 dianggap lebih transparan jika dibandingkan dengan Pernyataan Standar Akutansi Keuangan (PSAK) yang berlaku saat ini. Dari sisi produk, unit link juga akan disajikan terpisah antara premi asuransi dengan investasi. Lalu laba dan rugi akan diubah sesuai kontrak, dan disajikan per tahun laporan.

Sementara itu, Ketua Tim Juri Best Insurance 2019 versi Majalah Investor Herris Simandjuntak menyebut memang akan ada perubahan yang signifikan dengan penerapan IFRS 17 pada industri asuransi.

"Kan pesannya itu agar perusahaan asuransi menjadi transparan. Selama ini kesan pada perusahaan asuransi itu premi dan investasi tidak diketahui keberadaannya," ungkap dia.

Ia menjelaskan, nantinya akan ada pemisahan antara premi asuransi dan investasi karena memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda. Sebagai ilustrasi, asuransi endowment memang menjadi investasi yang sifatnya tanggung jawab perusahaan. Namun, tanggung jawab asuransi unit link masih pada pemegan polis.

Herris menilai, hal tersebut menjadi alasan dipilihnya tema besar tersebut sebagai pengingat bagi industri asuransi. Sehingga saat ini industri dapat mempersiapkan untuk lebih transparan. Nantinya, industri asuransi kembali pada jati diri yang sesungguhnya.

"Back to basic, asuransi ya asuransi. Penekanan pada asuransi bukan pada investasi," jelas dia. (c04)



Sumber: Majalah Investor