Perang Dagang Jadi Alasan BI Turunkan Suku Bunga

Perang Dagang Jadi Alasan BI Turunkan Suku Bunga
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo dalam acara pelatihan wartawan ekonomi, di Medan, 19 Juli 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / WBP Jumat, 19 Juli 2019 | 21:02 WIB

Medan, Beritasatu.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. Kebijakan tersebut sejalan tetap rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas eksternal yang terkendali.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo menyampaikan, ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang diprediksi masih akan terus berlanjut membuat kondisi ekonomi global melambat. Itu pula yang menjadi salah satu alasan BI menurunkan suku bunga. AS bahkan telah menaikkan tambahan tarif ke 25 persen untuk nilai perdagangan dari Tiongkok ke AS sebesar US$ 200 miliar. Tiongkok langsung membalasnya dengan menaikkan tambahan tarif sampai 25 persen.

“Dalam Osaka Summit kemarin telah disepakati untuk melakukan pembahasan (trade war) lebih lanjut. Artinya belum bisa dikatakan kalau trade war ini selesai. Tetapi ada satu hal yang menjadi lebih pasti dari kemarin, di mana kepastian dari ketidakpastian ini akan membuat kondisi ekonomi global lebih melambat. Pasar sudah melihat bahwa trade war kemungkinan besar akan terus berlanjut. Sebelumnya, banyak yang bertanya, mengapa BI tidak menurunkan suku bunga, padahal inflasinya bagus dan ekonominya perlu tumbuh. BI selalu mengatakan, kita masih melihat risiko eksternalnya, perlu meyakini eksternal stability-nya tetap ada. Sekarang kita meyakini bahwa ketidakpastian di eksternal secara global sudah lebih terukur, lebih pasti. Itulah yang kemudian menjadi dasar BI mengambil kebijakan ini,” kata Dody Budi Waluyo dalam acara pelatihan wartawan ekonomi yang digelar di Medan, Jumat (19/7/2019).

Dampak dari trade war ini menurut Dody akan membuat perdagangan yang ada di negara emerging maupun di negara maju jadi melambat. Dampak lainnya adalah konsumsi yang tertahan akibat pendapatan dari ekspor yang berkurang. Selain itu, permintaan produksi juga akan berkurang akibat permintaan secara global yang menurun.

“Trade war juga tidak bisa dikatakan hanya berhenti di AS dan Tiongkok. Di dalam list Amerika, banyak negara-negara yang punya surplus perdagangan kepada AS dan sedang di-review kebijakannya oleh mereka seperti India, Meksiko, Vietnam, dan beberapa negara lainnya. Kapan perang dagang ini akan berakhir? Kalau kita baca pada sejumlah media dan merujuk pada satu titik, ini akan berhenti pada saat nanti adanya election (2020). Itu jadi alat saja untuk memenangkan Trump,” ujar Dody Budi Waluyo.

Dengan posisi ini, menurut Dody gambaran ketidakpastiannya menjadi lebih terukur, di mana ekonomi global akan melambat. Sehingga risikonya harus dihadapi dengan salah satunya melakukan penurunan suku bunga. Ke depan, lanjut Dody, upaya untuk mendorong permintaan domestik termasuk investasi perlu ditingkatkan untuk memitigasi dampak negatif perlambatan ekonomi dunia.

“Strategi operasi moneter juga tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas. Itu sebetulnya sudah kita mulai dari dua tiga bulan sebelumnya. Kita membuka window untuk Term Repo setiap hari. Artinya meyakinkan kepada pasar bahwa likuditas akan terus kita pasok sepanjang diperlukan oleh perbankan. Ini semua untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang dan memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif, artinya kebijakan suku bunga dan likuiditas GWM (Giro Wajib Minimum) yang akomodatif,” ujar Dody Budi Waluyo.

Dengan suku bunga diturunkan, Dody berharap kebijakan ini akan semakin memperkuat stabilitas di neraca pembayaran. “Harapannya kebijakan ini akan membuat biaya untuk borrowing dari perbankan menjadi lebih murah, menjadikan lending perbankan jadi lebih baik. Permintaan terhadap kredit tentunya harus tetap dijaga. Sebab kalau permintaan itu juga lemah, akan menjadi sulit bagi perbankan melakukan ekspansi lending. Dari survei yang kita lakukan, kita melihat dari sisi ekspektasi konsumen masih cukup positif untuk terus melakukan kegiatan investasi,” ujar Dody Budi Waluyo.



Sumber: BeritaSatu.com