Kunjungan Mendag ke Tiongkok Dorong Ekspor Sarang Burung Walet

Kunjungan Mendag ke Tiongkok Dorong Ekspor Sarang Burung Walet
Ilustrasi sarang burung walet ( Foto: Istimewa )
Ridho Syukro / FER Minggu, 21 Juli 2019 | 15:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kunjungan Kementerian Perdagangan (Kemdag) ke Tiongkok untuk melakukan lobi terhadap syarat dan proses ekspor sarang burung walet, mendapat banyak pujian.

Pasalnya, kalangan pelaku usaha memang masih merasakan kesulitan untuk mengekspor sarang burung walet ke Tiongkok. Melalui upaya ini, diharapkan ekspor sarang burung walet ke Tiongkok bisa naik hingga dua kali lipat tahun ini.

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI), Boedi Mranata, mengatakan, syarat ekspor sarang burung walet ke Tiongkok cukup ketat. Sehingga,  pihaknya mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi kalangan eksportir.

"Mungkin syarat-syarat ketat itu coba agak dipermudah dan agak digampangkan. Sebab, dengan syarat yang ketat itu memang masuk pasar ke Tiongkok lebih sulit ya," ujar Boedi dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu (21/7/2019).

Boedi mengatakan, PPBSI menargetkan ekspor sarang burung walet ke Tiongkok mencapai 140 ton pada tahun 2019, jika upaya yang dilakukan Kemdag menbuahkan hasil positif. Jumlah tersebut, setara dua kali lipat jumlah ekspor sarang burung walet ke Tiongkok pada tahun 2018 sebesar 70 ton.

"Sementara, total sarang burung walet yang bisa Indonesia ekspor ke pasar global sepanjang tahun 2018 sebanyak 1.596 ton," terang Boedi.

Selain kemudahan, lanjut Boedi, PPBSI berharap kuota ekspor sarang burung walet dapat bertambah seiring kunjungan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita ke Tiongkok untuk mendorong ekspor komoditas tersebut.

"Sebabnya, pemerintah Tiongkok hanya memberi kuota impor sarang burung walet dari Indonesia sebanyak 150 ton dalam setahun," tandas Boedi.

Pengamat perdagangan internasional Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal menilai, langkah Mendag mengunjugi Tiongkok untuk mendorong ekspor sejumlah komoditas merupakan tindakan tepat.

"Namun, pemerintah mesti cermat dalam melakukan negosiasi dagang dengan Tiongkok karena negara tersebut biasanya juga akan menawarkan produknya untuk dijual ke Indonesia sebagai timbal balik," kata Fithra.

Menurut Fithra, Tiongkok merupakan negara aliansi strategis di masa depan. Negara tersebut, diprediksi akan mengalihkan jaringan produksinya ke Asia, terutama Asia Tenggara.

"Mengingat, saat ini Amerika Serikat (AS) sudah menjadi rival perdagangan Tiongkok. Dengan demikian, Tiongkok diprediksi akan terkonsentrasi pada Asia dalam membuat jaringan produksi," tandas Fithra.



Sumber: Investor Daily