Ekonomi Digital Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2045

Ekonomi Digital Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2045
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyampaikan paparannya, di acara Indonesia Development Forum (IDF) 2019, Jakarta, 23 Juli 2019 ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Selasa, 23 Juli 2019 | 23:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, sektor yang mampu menggerakkan roda ekonomi Indonesia ke depannya bukan lagi berasal dari sektor pertambangan, pertanian, maupun manufaktur. Nantinya, yang akan menggerakkan roda ekonomi Indonesia adalah ekonomi kreatif dan ekonomi digital.

"Dengan melihat apa yang sudah berkembang di kalangan anak muda, di tahun 2045 mendatang kita melihat ekonomi kreatif dan ekonomi digital bisa menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, startup yang muncul saat ini akan menjadi masa depan entrepreneur Indonesia,” kata Bambang Brodjonegoro, di acara pemaparan hasil riset dampak ekonomi dari kehadiran teknologi Grab, di Hotel Fairmont, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Untuk bisa menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi, Bambang menegaskan, industri ekonomi kreatif dan ekonomi digital Indonesia juga harus berorientasi ekspor, tidak sebatas euphoria dan hanya berjaya di negara sendiri. Produk yang berskala ekspor tersebut juga bukan hanya berbentuk barang, tetapi juga dalam bentuk jasa atau sesuatu yang bersifat kreatif.

Dikatakan Bambang, salah satu produk dari perkembangan ekonomi digital yang telah memberikan dampak besar bagi perekonomian dan mengurangi pengangguran adalah layanan transportasi on-demand. Peluangnya juga masih sangat besar, apalagi pasar Indoensia masih sangat nyaman dengan layanan transportasi on-demand yang berbasis mobile data.

Pemerintah sendiri telah membuat beberapa kebijakan untuk mendorong ekonomi kreatif dan digital, termasuk di dalamnya layanan transportasi on-demand agar bisa menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kebijakan pertama adalah peningkatan kualitas layanan digital. Bambang menyampaikan, saat ini pemerintah terus membangun infrastrutur digital untuk menukung pertumbuhan ekonomi digital, antara lain melalui proyek Palapa Ring dan juga menyiapkan satelit dengan teknologi internet berkecepatan tinggi.

Kebijakan kedua yaitu penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan masa depan. Sebab ke depannya, 30 persen pekerjaan di dunia akan digantikan oleh mesin atau robot. Namun di saat yang bersamaan, di tahun 2022 akan tercipta 26 juta lapangan pekerjaan baru oleh kemunculan ekonomi digital dan juga perdagangan online.

Kebijakan selanjutnya yaitu pengembagan SDM melalui research and development (R&D) dan instrumen fiskal untuk insiatif Industri 4.0, peningkatan teknologi finansial untuk mempercepat perkembangan ekonomi digital, memperkuat peran stakeholder dalam ekosistem inovasi, serta kolaborasi untuk pengembangan perusahaan rintisan atau startup.

Terkait kebijakan pengembagan SDM melalui R&D dan instrumen fiskal, pemerintah baru-baru ini mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 45 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas PP Nomor 94 Tahun 2010 Tentang Perhitungan Penghasilan Kena Pajak Dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan.

Perubahan ini didasarkan upaya pemerintah untuk mendorong investasi pada industri padat karya, keterlibatan industri dalam penyiapan SDM yang berkualitas, dan industri melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.



Berdasarkan peraturan tersebut, pemerintah memberikan insentif pajak sebesar pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan industri dalam menyelenggarakan kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran dalam rangka peningkatan SDM berbasis kompetensi tertentu. Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif serupa dengan nilai maksimal 300 persen dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia.

"Semua ini kita lakukan dalam upaya mendorong R&D lebih serius. Kita harapkan kegiatan penelitian dan pengembangan adanya di Indonesia. Tidak hanya perusahan kita saja, tetapi juga perusahaan asing,” ujar Bambang.



Sumber: BeritaSatu.com