PLN Harus Perbaiki Manajemen Pelaporan

PLN Harus Perbaiki Manajemen Pelaporan
Petugas PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Barat tengah melakukan pengecekan kondisi High Voltage (HV) Apparatus di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 kV Muara Tawar beberapa waktu lalu. ( Foto: Suara Pembaruan / Carlos Roy Fajarta )
Fajar Widhiyanto / FW Kamis, 8 Agustus 2019 | 21:35 WIB

Demi menghindari insiden pemadaman listrik akibat terganggunya jaringan transmisi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero seperti pada Minggu 4 – 5 Agustus 2019 lalu, PT PLN diminta meningkatkan kualitas manajemen reporting atau pelaporan dari karyawannya.

Kemampuan karyawan dalam melakukan reporting harian, mingguan, bulanan dan progress report dinilai sangat vital, karena dari pelaporan tersebut perusahaan mampu menetapkan dan melakukan antisipasi pencegahan malfungsi operasional, termasuk menginvestigasi secara cepat saat terjadinya sebuah peristiwa.

Saran ini disampaikan Chairman Persatuan Insinyur Profesional Indonesia (PIPI), Raswari dalam peryataannya yang diterima redaksi (8/8). Baginya perusahaan sebesar PLN, Pertamina, atau PGN, wajib melatih karyawan dengan kemampuan penulisan reporting berstandar internasional.

“Report ini kelihatan sepele tapi vital.” ujarnya. Menurut Raswari, hal ini penting untuk menganalisis prosedur pelaporan, apa yang dilaporkan, bagaimana melaporkan, siapa yang melaporkan, dan siapa yang meng-otorisasi sebuah prosedur saat terjadi peristiwa. “Jadi bisa diketahui alur peristiwa ketika terjadi kondisi genting,” imbuhnya.

Berikutnya ia juga menyebutkan agar PLN menginspeksi secara detil seluruh peralatan teknik, terutama yang vital dan sensitif. Hal ini penting untuk memastikan pemenuhan terhadap standard ISO terkait keandalan kualitasnya, dan tidak terjadi kegagalan saat dioperasikan.

Ke depan, peristiwa blackout yang merugikan PLN sekitar Rp90 miliar, di luar biaya kompensasi yang harus dibayarkan sebesar Rp865 miliar, PLN bisa memetik pelajaran yang harus diaplikasikan untuk mencegah kondisi serupa. PLN bisa membuat simulasi jika terjadi trip atau gangguan di satu pembangkit atau jaringan transmisi.

“Segmentasi distribusinya di-reroute kembali. Dianalisis berbagai fasilitas yang ada mana yang harus dikoneksikan. Jadi jika Jakarta, Bandung, Banten atau daerah lainnya yang berpenduduk besar mengalami blackout, bisa diantisipasi segera sumber daya alternatifnya, akan diambil dari mana,” pungkas Raswari.

Kendati demikian Raswari mengapresiasi kinerja cepat PLN dalam mengatasi gangguan kelistrikan pada hari Minggu 4 Agustus 2019 . “PLN mampu memulihkan 6 turbin dalam 6 jam itu luar biasa,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Deputy Chairman Oil, Gas dan Energi KADIN Indonesia ini. Hingga Senin, 5 Agustus 2019, PLN telah mampu menghidupkan total 40 turbin.

Menurutnya pemulihan turbin sangat kompleks. Banyak hal terlibat, mulai dari ketersediaan pakar perbaikan, peralatan perbaikan, suku cadang, hingga proses pengantaran suku cadang ke lokasi kejadian. “Kalau rusaknya berat, bahkan bisa berhari-hari perbaikannya,” ujarnya. Ia mengaku memahami betul kompleksitas permasalahan dalam proses pemulihan peristiwa berskala besar. Itu sebabnya dirinya mengapresiasi kecepatan kinerja PLN dalam memulihkan kondisi kemarin.

Sebelumnya Direktur Regional Jawa Bagian Barat PT PLN, Haryanto menyatakan, pihaknya akan memberikan kompensasi berkisar Rp865 miliar kepada kurang lebih 22 juta pelanggan terdampak di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten. Adapun kompensasi tersebut akan dibayarkan sejak 1 September 2019 dengan mekanisme pengurangan dari jumlah yang biasanya dibayarkan tiap bulannya.



Sumber: Majalah Investor