Rizal Ramli: Indonesia Berpotensi Kena Krisis Ekonomi Tahun Depan

Rizal Ramli: Indonesia Berpotensi Kena Krisis Ekonomi Tahun Depan
Rizal Ramli ( Foto: Beritasatu )
Herman / IDS Senin, 12 Agustus 2019 | 17:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli menyebut Indonesia saat ini sedang berada dalam tahap creeping crisis atau sedang “merangkak” untuk sampai pada kondisi krisis. Bila hal ini tidak segera diantisipasi dan diperbaiki, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami krisis yang sesungguhnya pada 2020.

“Kondisi sekarang ini kita sebut creeping crisis. Ada krisis kecil-kecil dan tidak disadari banyak orang, tetapi kalau disatukan jadi besar juga. Ini bisa dilihat dari kondisi makro, mikro, maupun korporasi. Kalau dibiarkan terus, bisa sangat membahayakan,” kata Rizal Ramli di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/8/2019).

Dari indikator makro, Rizal antara lain menyebut grafik transaksi berjalan yang semakin merosot, bahkan sudah mencapai lebih dari US$ 8 miliar. Kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal II-2019 sebesar US$ 8,4 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB). Indikator lainnya adalah kondisi neraca perdagangan Indonesia dan rasio pajak.

“Selain indikator makro, indikator mikro juga sudah mulai terlihat membahayakan. Seperti slow down sektor ritel yang diprediksi akan terus berlanjut. Daya beli dan consumer good juga masih akan turun, begitu pun dengan properti yang diprediksi akan terpuruk, kecuali untuk beberapa segmen. Kemudian di level korporasi, mulai terjadi peningkatan default atau gagal bayar. Ini diistilahkan sebagai zombie company, di mana pembayaran bunga hutang perusahaan tidak bisa ditutupi dengan profit-nya. Perusahaan ini hanya bisa hidup dengan refinancing terus menerus,” kata Rizal.

Untuk bisa keluar dari ancaman krisis yang lebih besar ini, menurut Rizal pemerintah Indonesia harus menghentikan cara lama seperti melakukan pengetatan anggaran atau mengejar pajak dari perusahan atau pelaku usaha kecil. Pemerintah menurutnya harus melakukan sesuatu yang out of the box. Antara lain dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi menjadi 6% sampai 8%, serta meningkatkan daya beli rakyat kecil dengan cara memberikan stimulus.

“Yang saya lakukan di tahun 2000 saat menjadi Menko Ekonomi adalah menggenjot pertumbuhan ekonomi. Dalam waktu 21 bulan bisa naik 4,5% menjadi 7,5%. Ekspor juga dinaikkan jadi dua kali lipat dan harga pangan dijaga tetap stabil supaya daya beli masyarakat tetap tinggi. Kemudian kami juga menaikkan gaji PNS, ABRI, dan pensiunan sampai 125%. Teorinya, PNS yang golongan bawah itu kan hidupnya susah. Setelah kita naikkan gajinya, tiba-tiba mereka punya daya beli, dan 99% itu dibelanjakan. Dampaknya, sektor ritel hidup, ekonomi hidup, baru setelah itu kita tarik pajaknya. Beda halnya kalau kita memberikan stimulus kepada orang kaya berupa potongan pajak atau hal lain. Uangnya justru akan disimpan di luar negeri dan bukan untuk memompa ekonomi. Sedangkan kalau rakyat kecil yang diberikan stimulus, dia pasti akan membelanjakan semuanya,” kata Rizal.

Yang juga penting, menurut Rizal Indonesia perlu membuat rencana dan action agar bisa menarik manfaat dari adanya perang dagang atara Amerika Serikat dan Tiongkok. “Yang namanya krisis itu ada dua sisi, satu memberi masalah dan satunya lagi memberi opportunity. Sayangnya Indonesia tidak punya frame work bagimana menarik manfaat dari adanya trade war ini,” sesal Rizal.



Sumber: BeritaSatu.com