Harga Emas Menguat Akibat Perang Dagang
INDEX

BISNIS-27 540.837 (-8.19)   |   COMPOSITE 6428.31 (-54.9)   |   DBX 1183.86 (16.52)   |   I-GRADE 188.148 (-2.58)   |   IDX30 539.476 (-8.89)   |   IDX80 144.979 (-1.68)   |   IDXBUMN20 440.639 (-3.89)   |   IDXESGL 147.926 (-1.09)   |   IDXG30 146.726 (-1.41)   |   IDXHIDIV20 473.385 (-7.91)   |   IDXQ30 152.644 (-1.92)   |   IDXSMC-COM 299.578 (-0.96)   |   IDXSMC-LIQ 376.282 (-1.41)   |   IDXV30 152.705 (-1.81)   |   INFOBANK15 1086.82 (-23.03)   |   Investor33 459.04 (-6.31)   |   ISSI 190.39 (-0.94)   |   JII 671.594 (-3.85)   |   JII70 236.079 (-1.46)   |   KOMPAS100 1294.89 (-15.54)   |   LQ45 1002.38 (-13.63)   |   MBX 1785.38 (-21.17)   |   MNC36 340.467 (-4.76)   |   PEFINDO25 342.936 (-2.7)   |   SMInfra18 325.457 (-0.02)   |   SRI-KEHATI 391.973 (-5.4)   |  

Harga Emas Menguat Akibat Perang Dagang

Selasa, 13 Agustus 2019 | 08:30 WIB
Oleh : WBP

Chicago, Beritasatu.com - Harga emas berjangka di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik tajam di akhir perdagangan pada Senin atau Selasa pagi WIB (13/8/2019) karena ketegangan perdagangan AS-Tiongkok yang berkepanjangan sehingga meningkatkan daya tarik aset-aset safe haven.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik US$ 8,7 (0,58 persen) menjadi US$ 1.517,20 per ons. Logam mulia memperpanjang reli selama perdagangan elektronik berikutnya dengan keuntungan mencapai dua digit.

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta prospek pertumbuhan global yang suram dengan banyak bank sentral memangkas suku bunga utama, mendorong investor membuang aset-aset berisiko dan berbondong-bondong ke emas.

Indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500 dan Nasdaq, semua indeks acuan turun secara signifikan pada perdagangan pada hari Senin (12/8).

Dukungan tambahan datang dari indeks dolar AS, ukuran green back terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya yang juga turun. Ketika dolar AS melemah, harga emas dalam dolar AS biasanya naik karena menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Adapun logam mulia lainnya, perak pengiriman pada bulan September naik 14 sen (0,83) persen atau menjadi US$ 17,071 per ons. Platinum untuk pengiriman Oktober turun US$ 0,1 (0,01 persen) atau menjadi menetap di US$ 863,70 per ons.



Sumber: Xinhua, Antara


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Wall Street Tergerus Kekhawatiran Prospek Ekonomi AS

Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup turun 389,7 poin (1,48 persen) mencapai 28.898.

EKONOMI | 13 Agustus 2019

Sentral Mitra Bidik Pasar MPS di Bali

Sentral Mitra mulai gencar membidik pasar perhotelan di Bali dengan menawarkan manager print service (MPS) bagi perusahaan perhotelan di Bali.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Diskriminasi Sawit, RI Balas Tindakan Uni Eropa

Pemerintah Indonesia juga saat ini mempersulit ekspor minuman beralkohol asal Uni Eropa.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Januari 2020, Pemerintah Berlakukan Penggunaan B30

Akhir tahun 2020, pemerintah akan menerapkan penggunaan bauran biodiesel 50%.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Batu Bara Harus Diprioritaskan untuk Kebutuhan Dalam Negeri

Kuota ekspor harus ditekan seiring dengan keterbatasan cadangan

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Ini Ketentuan Baru Bawa Sepeda dalam Kereta

Sepeda yang diperbolehkan dibawa ke dalam kereta api adalah sepeda lipat dengan berat maksimal 20 kg dan roda maksimal 22 inci.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Pendiri Jababeka Optimistis Kegaduhan Manajamen Segera Berlalu

Memasuki semester II-2019, Darmono yakin kinerja penjualan akan lebih baik dibanding enam bulan pertama 2019.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Rizal Ramli: Indonesia Berpotensi Kena Krisis Ekonomi Tahun Depan

Pemerintah harus melakukan sesuatu yang out of the box, dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi menjadi 6% sampai 8%, serta meningkatkan daya beli rakyat.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

JK Minta BI Turunkan Kembali Suku Bunga Acuan

Menurut Wapres Jusuf Kalla, penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong investasi daripada meningkatkan kapital portofolio.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Presiden: Sawit Indonesia Sangat Tertekan

Presiden Jokowi mengakui bahwa saat ini posisi kelapa sawit Indonesia sangat tertekan di pasar internasional.

EKONOMI | 12 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS