Tidak Terpengaruh E-Commerce, Omzet Ritel Modern Tembus Rp 150 T

Tidak Terpengaruh E-Commerce, Omzet Ritel Modern Tembus Rp 150 T
Sejumlah pengunjung antri di kasir usai berbelanja saat pembukaan gerai JYSK Indonesia yang merupakan gerai ke-100 OT Retail di Lippo Mall Puri, Jakarta, Minggu 16 Juni 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao. )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Rabu, 14 Agustus 2019 | 17:31 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Sepanjang semester I 2019, nilai penjualan atau omzet ritel modern mencapai angka Rp 150 triliun. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, penjualan ritel tahun ini jauh lebih baik.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan sepanjang semester I 2019, perekonomian Indonesia cukup stabil sehingga mempengaruhi daya beli konsumen.

Di samping itu, terdapat pesta demokrasi yang secara tidak langsung mendorong penjualan ritel modern, kontribusi pemilu terhadap penjualan ritel mencapai angka 30 persen. Pemilu cukup berkontribusi positif terhadap ritel modern karena selama masa kampanye dibutuhkan produk makanan dan minuman dan dibelinya di ritel modern. Lebaran juga terjadi di semester I 2019 dan sangat terasa dampaknya pada ritel modern karena sebagian besar masyarakat Indonesia merayakan Lebaran maka kebutuhan Lebaran seperti biskuit, sirup dibelinya juga di ritel modern. Hampir semua anggota Aprindo melaporkan kenaikan penjualan hingga 40 persen selama Lebaran yang merupakan musim panen penjualan.

Sepanjang semester I 2019, realisasi belanja pemerintah daerah dan pusat juga tidak tertunda seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak pemerintah daerah yang merealisasikan belanjanya di awal tahun.

“Realisasi omzet ritel modern pada semester I 2019 mencapai angka Rp 150 triliun dan cukup positif, kami sangat bersyukur bisa memperoleh angka itu,” ujar dia ketika ditemui dalam acara pembukaan Indonesia Great Sale di TangCity Mall, Tangerang, Rabu (14/8/2019).

Hingga akhir tahun, pihaknya menargetkan omzet ritel modern mencapai angka Rp 260 triliun atau naik 9 persen-10 persen dari realisasi tahun lalu yang mencapai angka Rp 220 triliun.

Melihat pencapaian dari semester I 2019 sebesar Rp 150 triliun, Aprindo optimistis target tersebut bisa dicapai. Ia mengatakan sepanjang semester II 2019, anak-anak kembali masuk sekolah ditambah di akhir tahun ada Natal, semuanya memberikan sinyal positif terhadap penjualan ritel modern. Ia menuturkan pihaknya juga terus memberikan promosi untuk menarik konsumen agar belanja di ritel modern.

Meskipun e-commerce sedang tumbuh tetapi tidak menganggu penjualan ritel modern karena tipe konsumennya juga berbeda. E-commerce menarik konsumen yang sibuk sementara konsumen ritel modern lebih kepada orang-orang yang menghabiskan waktu belanja bulanan.

Aprindo dan Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) juga mengikuti Indonesia Great Sale untuk merayakan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 74, pembukaan Indonesia Great Sale berlangsung pada 14 Agustus 2019 di TangCity Mall, Tangerang dan diadakan dari 14-25 Agustus 2019 serentak di seluruh Mall di Indonesia.

Aprindo berharap dengan adanya Indonesia Great Sale, daya beli konsumen bisa meningkat karena ada diskon besar besaran hingga 74 persen. Target transaksi selama Indonesia Great Sale mencapai angka Rp 35 triliun dengan produk unggulan yaitu produk fashion.

“Kami mengikuti Indonesia Great Sale untuk berkontribusi kepada Indonesia dan tentunya merayakan hari kemerdekaan,” ujar dia.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan pusat perbelanjaan atau mal masih menjadi tujuan utama masyarakat Indonesia untuk menghabiskan waktunya, kehadiran situs belanja online tidak akan menganggu pertumbuhan pusat perbelanjaan hingga beberapa tahun ke depan.

ia mengatakan kegunaan mal lebih dari sekedar belanja tetapi juga digunakan untuk santai, makan dan nonton. Kebanyakan masyarakat Indonesia suka menghabiskan penghasilannya untuk bersenang-senang dan pusat perbelanjaan menjadi tujuan. Meskipun banyak masyarakat yang belanja online tetapi untuk kebutuhan bersenang-senang tidak dilupakan. Buktinya masih banyak mal yang ramai ketika weekend.

“Indonesia masih butuh pusat perbelanjaan atau mal karena sudah kebutuhan kedua. Di samping itu semakin banyak pusat perbelanjaannya menggambarkan negara itu berkembang dan ada pride juga,” ujar dia

Ia mengatakan fakta yang menarik adalah kebanyakan merchant yang berada di mal adalah merchant lokal, khususnya di sektor makanan dan minuman, porsi asing tidak sebanyak lokal.

Pertumbuhan pusat perbelanjaan tidak hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta saja, tetapi juga sudah menyebar ke beberapa daerah.

“Mal paling ramai di daerah yang masyarakatnya belum terlalu familiar dengan belanja online,” ujar dia



Sumber: BeritaSatu.com