Mendag Sampaikan Nota Keberatan Bea Masuk Biodiesel ke Uni Eropa

Mendag Sampaikan Nota Keberatan Bea Masuk Biodiesel ke Uni Eropa
Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita memberikan pidato sambutan saat peresmian Indonesia Great Sale, Tangerang, Rabu 14 Agustus 2019. Program diskon belanja yang serentak digelar oleh 321 pusat perbelanjaan seluruh Indonesia ini dalam rangka merayakan HUT RI Ke-74. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Ridho Syukro / FMB Rabu, 14 Agustus 2019 | 20:20 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berencana menyampaikan nota keberatan kepada Uni Eropa terkait pemberlakuan Bea Masuk Imbalan Sementara atas produk biodiesel Indonesia sebesar 8 persen-18 persen.

Uni Eropa sudah memberlakukan kebijakan ini pada Juli 2019 dan banyak diprotes oleh kalangan pengusaha. Ia mengatakan pihaknya akan menyampaikan nota keberatan dalam waktu lima hari dan menunggu respon dari Uni Eropa.

“Kami akan sampaikan keberatan melalui nota keberatan untuk membalas tindakan Uni Eropa kepada Indonesia,” ujar dia ketika ditemui dalam pembukaan Indonesia Great Sale, di Tangcity Mall, Tangerang, Rabu (14/8/2019).

Langkah lain yang akan dilakukan setelah menyampaikan nota keberatan adalah mengajak importir produk olahan susu eropa untuk mencari sumber lain seperti Amerika Serikat.

Ia menjelaskan nota keberatan sudah dianggap sebagai pelajaran dan berharap Uni Eropa meresponnya.

Sebelumnya, pengusaha makanan dan minuman yang tergabung dalam Gapmmi juga mendukung langkah Kementerian Perdagangan terkait pemberlakuan bea masuk sementara yang dikeluarkan Uni Eropa atas produk biodiesel Indonesia.

Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman meminta pemerintah tegas dan jika Uni Eropa tidak ada respon maka bisa dilaporkan ke WTO.

Menurut Adi, UE selalu mencari cara agar sawit Indonesia tidak beredar di pasar Eropa. Masalah ini semakin memanas hingga muncul rencana pengenaan bea masuk imbalan sementara biodiesel.

“Kami mendukung 100 persen upaya Kemdag memprotes keras kebijakan itu, karena kalau dibiarkan, tindakan mereka akan semakin menjadi-jadi ke sawit kita,” ujar dia.

Adhi mengatakan, sawit tidak ada kaitannya dengan ramah lingkungan yang selalu menjadi topik pembicaraan UE. Sebab, sawit tidak mencemari lingkungan, jika dikelola dan diatur dengan sebaik mungkin. Pengaturan dan pengelolaan sawit harus berdasarkan tata kelola perusahaan yang baik (good governance). Namun, UE selalu mempermasalahkan sawit Indonesia, sedangkan produk serupa dari negara lain baik-baik saja. 



Sumber: Investor Daily