Harga Minyak Terpangkas karena Suramnya Data Ekonomi

Harga Minyak Terpangkas karena Suramnya Data Ekonomi
Ilustrasi minyak dunia. ( Foto: vungtauoil.com )
/ WBP Kamis, 15 Agustus 2019 | 09:47 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak dunia jatuh sekitar tiga persen pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (15/8/2019), setelah data ekonomi terbaru Tiongkok dan Eropa memunculkan kekhawatiran permintaan global. Sementara di sisi lain persediaan minyak mentah AS naik secara tak terduga untuk minggu kedua berturut-turut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober turun US$ 1,82 atau 3,0 persen menjadi US$ 59,48 per barel di London ICE Futures Exchange.  Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September merosot US$ 1,87 atau 3,3 persen, menjadi US$ 55,23 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah naik 4,0 persen pada sesi sebelumnya, terbesar dalam sebulan.

Tiongkok melaporkan data yang mengecewakan untuk Juli, termasuk penurunan mengejutkan pertumbuhan produksi industri ke level terendah lebih dari 17 tahun. Hal ini menggarisbawahi keretakan ekonomi yang melebar karena perang perdagangan dengan Amerika Serikat meningkat.

Perlambatan ekonomi global, diperkuat oleh konflik tarif dan ketidakpastian Brexit, sehingga memukul ekonomi negara-negara Eropa. Kemerosotan ekspor mengirim ekonomi Jerman berbalik pada kuartal kedua. Sementara PDB zona euro hampir tidak tumbuh di kuartal kedua 2019.

"Data dari Tiongkok dan potensi resesi yang muncul di Jerman, semua itu bermain dalam kekhawatiran permintaan global," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Sementara kurva imbal hasil obligasi AS terbalik untuk pertama kalinya sejak 2007, sebagai tanda kekhawatiran investor bahwa ekonomi terbesar dunia itu akan menuju resesi.

Stok minyak mentah AS naik 1,6 juta barel pekan lalu, dibandingkan ekspektasi analis untuk penurunan 2,8 juta barel, karena kilang memangkas produksi, tulis Badan Informasi Energi AS (EIA) dalam laporannya. Dengan stok 440,5 juta barel, menjadikan sekitar tiga persen di atas rata-rata lima tahun untuk tahun ini, kata EIA dalam laporan mingguannya.



Sumber: Xinhua, Antara