Impor Migas Penyebab Neraca Perdagangan Juli Defisit

Impor Migas Penyebab Neraca Perdagangan Juli Defisit
Pekerja menyelesaikan pembuatan kapal tanker pesanan Pertamina di galangan kapal PT Daya Radar Utama di Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (27/2). Hingga 2017 sebanyak 11 unit kapal yang siap dikirimkan galangan kapal yakni delapan unit kapal dengan bobot mati 17.500 deadweight tonnage (DWT) dari galangan kapal dalam negeri dan tiga unit kapal dengan bobot mati 40.000 deadweight tonnage (DWT) dari galangan kapal China. Antara/Zabur Karuru
Faisal Maliki Baskoro / FMB Kamis, 15 Agustus 2019 | 18:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pada awal Juli lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperingatkan Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri BUMN Rini Soemarno soal defisit neraca perdagangan yang melebar akibat impor migas. Namun, impor migas ternyata masih mengalami kenaikan sepanjang Juli lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai neraca perdagangan Indonesia Juli 2019 mengalami defisit US$ 63,5 juta, padahal bulan sebelumnya RI mencatat surplus US$ 200 juta. Salah satu penyebab defisit adalah naiknya impor migas. Sektor migas mencatat defisit sebesar US$ 142,4 juta, walaupun sektor nonmigas surplus US$ 78,9 juta.

Nilai impor Indonesia Juli 2019 mencapai US$ 15,51 miliar atau naik US$ 4,02 miliar (34,96 persen) dibanding Juni 2019. Hal tersebut disebabkan oleh naiknya nilai impor migas Juli 2019 sebesar 2,04 persen menjadi US$ 1,75 miliar dan impor nonmigas naik 40,72 persen menjadi US$ 13,77 miliar.

Peningkatan impor migas dipicu oleh naiknya nilai impor minyak mentah sebesar US$ 77,9 juta (19,11 persen), tetapi nilai impor hasil minyak dan gas mengalami penurunan masing-masing US$ 16,5 juta (1,52 persen) dan US$ 26,4 juta (12,14 persen).

Secara kumulatif, nilai impor Januari–Juli 2019 adalah US$ 97,68 miliar atau turun 9 persen (US$ 9,66 miliar) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada impor migas dan nonmigas masing-masing US$ 4,08 miliar (24,42 persen) dan US$ 5,58 miliar (6,16 persen). Lebih lanjut penurunan impor migas disebabkan oleh turunnya impor seluruh komponen migas, yaitu minyak mentah US$ 2,04 miliar (39,15 persen), hasil minyak US$ 1,87 miliar (19,05 persen), dan gas US$ 173,1 juta (10,26 persen).

Neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari-Juli 2019 tercatat mengalami defisit sebesar US$1,98 miliar.

Pertamina sebagai importir migas terbesar telah mengurangi ketergantungan impor hingga 35 persen dengan membeli minyak mentah dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menyampaikan, hingga 2 Agustus 2019, total kesepakatan pembelian minyak mentah dan kondensat dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mencapai 123.600 barel minyak mentah per hari (MBCD) dari 39 KKKS. Dengan upaya ini, Pertamina telah menekan impor minyak mentah sampai 35 persen dibandingkan impor tahun sebelumnya yang mencapai 339.000 barel per hari (MBPD).



Sumber: BeritaSatu.com