BI Tertibkan Wechat dan Alipay karena Belum Dapat Izin Operasional

BI Tertibkan Wechat dan Alipay karena Belum Dapat Izin Operasional
Aplikasi WeChat. ( Foto: AFP )
Nida Sahara / WBP Sabtu, 17 Agustus 2019 | 08:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Bank Indonesia (BI) akan menertibkan perusahaan dompet digital asal Tiongkok seperti Wechat Pay dan Alipay yang sudah beroperasi di Indonesia tanpa mendapat persetujuan regulator. Sebab untuk bisa beroperasional di Indonesia, perusahaan dompet digital asing harus bekerja sama dengan bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV lebih dulu.

"Wechat dan Alipay masih kita atur, kita akan tertibkan nanti (yang sudah beroperasi di Indonesia tapi belum mendapat perizinan) karena harus kerja sama dengan BUKU IV," kata Deputi Gubernur BI Sugeng ditemui di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Sugeng menegaskan, untuk bisa menjalankan bisnisnya di Indonesia, perusahaan asal Tiongkok tersebut harus mengikuti aturan dari bank sentral. Pada prinsipnya, untuk penyelanggara asing yang memberikan layanan di Indonesia, maka harus menggunakan kuotasi dan bertransaksi dalam rupiah. Kemudian bekerja sama dengan bank BUKU IV, hal tersebut tercantum dalam Peraturan BI Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik. Sehingga aliran dananya dapat termonitor dan settlement terjadi di domestik. "Dengan adanya QRIS mereka harus tunduk sama kita, mereka harus kerja sama dengan bank BUKU IV," lanjut Sugeng.

QR Code Indonesia Standard (QRIS) akan diluncurkan pada 17 Agustus 2019. Sistem pembayaran QR Code di Indonesia nantinya harus beradaptasi dengan QRIS. Jadi penyedia jasa pembayaran, seperti Ovo, Gopay, Dana, LinkAja, termasuk dari luar negeri AliPay dan Wechat Pay, harus menyesuaikan dengan kode standar itu. Untuk penerapannya, BI mengacu pada Europay Mastercard Visa (EMV). Adapun EMV merupakan standar pembayaran menggunakan chip, Near Field Communication (NFC) maupun kode QR sebagai penghubung (interface) ke dompet digital (e-wallet).

Sebelumnya, Sugeng mengaku, ketika pelaksanaan IMF-WB di Bali tahun lalu, banyak merchant yang memasang logo Wechat Pay dan Alipay untuk opsi pembayarannya. BI telah memanggil Alipay dan WeChat Pay untuk memenuhi ketentuan yang ditetapkan BI.

Selain itu, Asisten Gubernur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsing juga sebelumnya mengungkapkan, Wechat Pay dan Alipay sudah mengajukan permohonan perizinan dengan menggandeng bank BUKU IV. "Saat ini, sedang dalam proses. Ada beberapa dokumen tinggal dilengkapi, setelah selesai maka mereka dapat langsung beroperasi," ujar Filianingsih.

Adapun skema operasional kerja sama, yakni penerbit uang elektronik asing membuka rekening penampung di bank BUKU IV. Rekening tersebut untuk menampung dana dari penerbit uang elektronik asing yang akan diteruskan ke merchant-merchant yang berkerja sama dengan bank BUKU IV.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, terkait kerja sama dengan Wechat dan Alipay masih dalam proses penjajakan di sisi teknis dan legal. Selain itu, pihaknya juga masih perlu mendapat persetujuan dari bank sentral sebelum mulai beroperasi dengan menggandeng kedua perusahaan dompet digital tersebut.

"Untuk dua itu kita sedang jajaki teknis dan legalnya. Teknis itu penting untuk bisa berjalan, karena menyangkut traveler yang datang ke Indonesia dan dari regulator harus dapat persetujuan," papar Jahja Setiaatmadja.

Pihaknya menambahkan, terkait Wechat dan Alipay yang sudah beroperasi di Indonesia meskipun belum mendapat izin dari BI merupakan suatu hal yang bisa saja terjadi. Pasalnya, belum ada sanksi yang tegas. "Di Bali waktu itu tanpa gandeng siapa-siapa dia operasi sendiri. Itu kaya maling dan polisi, maling itu ada di mana-mana kalau tidak ada polisi. Kalau tidak ketahuan ya tidak bisa dilarang, tapi sejauh ini harus in line dengan BI," terang Jahja Setiaatmadja.

Sebelumnya, Jahja sempat menargetkan kerja sama dengan Wechat Pay dan Alipay akan rampung pada kuartal III tahun ini. Nantinya, BCA yang akan menangani transaksi Alipay dan Wechat Pay dari turis Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia.



Sumber: Investor Daily