Kopi dan Elektrisitas

Kopi dan Elektrisitas
Kopi Manggarai. ( Foto: Ismewa )
Fajar Widhiyanto / FW Minggu, 18 Agustus 2019 | 23:13 WIB

Bisnis kopi saat ini termasuk salah satu bisnis yang sedang naik daun. Bahkan pelaku usaha bisa membuka usaha coffe shop hanya dengan memanfaatkan ruangan tersisa di halaman rumahnya. Melansir data dari Ditjen Industri Agro Kemenperin, pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan dalam negeri meningkat rata-rata 7% per tahun, didorong bertumbuhnya perubahan budaya dalam mengkonsumsi kopi di masyarakat kelas menengah.

Seiring menjamurnya budaya minum kopi, digelarlah Festival Kopi yang berlangsung 16 – 18 Agustus 2019 di Nusa Dua, Bali. Di festival ini, ditampilkan sejumlah acara seperti diskusi tentang kopi, coaching clinic serta pameran potensi kopi dari seluruh Indonesia.

Disampaikan Pambudi Prasetyo selaku Ketua Penyelenggara Festival Kopi, acara ini digelar untuk memperkenalkan dan menggabungkan kemampuan seniman lokal setempat, dengan keindahan Bali termasuk dari sisi kuliner, dan tampilan produk kerajinan lokal kepada para wisatawan yang berkunjung ke Bali.

“Agustus adalah musim puncak kunjungan turisme kedua di Bali setelah Idul Fitri, sehingga kami menyelenggarakan event yang sudah berlangsung selama 5 tahun ini, di mana di dalamnya kami masukkan event Festival Kopi, yang baru diselenggarakan pertama kalinya tahun ini. Kami berharap dapat berlangsung juga sebagai event tetap setiap tahun,” kata Pambudi dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu (18/8).

Pada event ini para pengunjung dan investor dapat berkomunikasi langsung dengan para petani atau pemilik kebun kopi, termasuk menyaksikan demo roasting kopi, dan buyer’s cupping.

Acara yang diikuti 48 booth ini, menampilkan wakil dari pemerintahan, market place, lembaga pembiayaan dan perbankan, hingga para pemain di bisnis kopi. Sejumlah peserta yang membuka booth di festival ini antara lain Kementerian Perindustrian, PT PLN Persero, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango, Pemkab Bandung, Terminal Coffee yang menjadi binaan Pemda setempat, Kopi Nusantara, Coco Group, Tropical Group, Prada Group, The Paon Group, serta sejumlah pemilik brand kopi terbaru.

PT PLN (Persero) sebagai salah satu pengisi stand, ikut mendukung bertumbuhnya industri kopi di Tanah Air melalui pemberian pelatihan dan penanaman kopi lewat anak perusahaannya Unit Pembangkit Mrica PT Indonesia Power di Desa Pengundungan dan Desa Krinjing, Jawa Tengah.

Melalui program Corporate Social Responsibility/CSR-nya, PT PLN membawa dua kelompok petani Kopi Senggani dari Kelompok Tani Rising - Desa Pengundungan, dan Kopi Krinjing dari Kelompok Tani Bumi Asih agar mereka bisa mendapatkan wawasan baru dalam industri komoditas kopi.

Bicara soal proses menghidangkan segelas kopi, dikatakan Pambudi hampir 60% energi listrik digunakan untuk menghasilkan secangkir kopi, terutama pada sisi distribusi (pengangkutan), roasting (proses sangrai), dan penyeduhan (brewing). Mesin roasting yang beroperasi pada suhu 550 derajat Fahrenheit, dan setiap satu jam menghabiskan energi sekitar 1 juta BTU (British Thermal Unit).

Dari semua proses, penyeduhan kopi paling membutuhkan energi terbesar. Secara total energi yang dipergunakan untuk menghasilkan 100 mililiter kopi setara dengan 1,94 megajoules, atau setengah KwH.

Dalam kesempatan serupa, Nyoman Suweca selaku Ketua Indonesian Barista Association (IBA) Bali, di bawah Indonesian Food and Beverage Association Commitee (IFBAC) Bali, untuk mendirikan coffee shop 'kekinian' yang menampilkan frame mural  menarik, termasuk penyediaan meja dan kursi serta sarana penerangan yang artistik plus empat jenis mesin pembuat kopi, diperlukan investasi awal berkisar antara Rp100 - 150 juta.

“Investasi terbesar adalah mesin-mesin seperti coffee grinder (mesin giling kopi), mesin espresso, french press (alat penghilang ampas kopi), milk steamer, dan kulkas atau chest freezer untuk menyimpan susu dan campuran bahan . Harga satu jenis mesin bisa seharga Rp35 - 50 juta. Berikutnya tentu penyediaan bahan baku jenis-jenis kopi yang banyak disukai saat ini, seperti jenis kopi premium atau  specialty coffee yang tumbuh di daerah tertentu,” paparnya.

Istilah specialty coffee merujuk pada kopi yang memiliki cupping test score di atas 80 poin. Penilaian ini berdasarkan aroma dan rasa yang khas dan istimewa di atas kopi rata-rata pada umumnya. Berdasarkan data Kemenperin, Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia, termasuk kopi luwak dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.

Hingga saat ini, sudah terdaftar 22 Indikasi Geografis (IG) untuk kopi Indonesia, di antaranya Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Puputan Bali, Kopi Arabika Sumatera Koerintji, Kopi Liberika Tungkal Jambi, dan Kopi Liberika Rangsang Meranti. Dalam pameran Festival Kopi di Nusa Dua juga ditampilkan sejumlah specialty coffee antara lain Kopi Kintamani Bali dan Kopi Tanamera. Dari Kabupaten Temanggung – Jateng, sudah terdaftar dua IG yakni Kopi Arabika Jawa Sindoro-Sumbing dan Kopi Robusta Temanggung.

Di bidang usaha coffee shop, daya listrik setiap jenis mesin berbeda-beda, bervariasi antara 1.200 watt sampai 1.300 watt, di luar daya boiler. Biasanya setiap venue memiliki minimal 4 jenis mesin, serta pendingin ruangan (AC) sehingga untuk menyediakan daya listrik beserta spare daya tersedia, mereka perlu menyediakan sekitar 10.000 watt.

Suweca menambahkan, sejak setahun terakhir perkembangan coffee shop di Bali bertumbuh pesat, sehingga hampir setiap bulan muncul satu kafe baru. Kegemaran minum kopi juga ditunjang oleh meningkatnya pendapatan kelas menengah, sehingga membeli segelas atau secangkir kopi harga Rp30 - 50 ribu, tidaklah terasa berat.

Sementara itu Direktur Industri Kecil Menengah (IKM) Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sri Yunianti mengemukakan, pada Festival Kopi ini Kemenperin bekerjasama dengan lembaga akademi Prodigy, yang mengadakan program bimbingan teknis selama 3 hari penyelenggaraan.

Program yang diikuti oleh 40 orang peserta ini, terbagi dalam 2 batch, yakni sesi pagi dan sore. “Kami ingin meningkatkan kompetensi SDM yang bergerak dalam industri kopi, khususnya para barista, sehingga mereka yang kebanyakan pesertanya adalah kaum muda – para milenial ini setelah selesai mengikuti bimbingan teknis, langsung dihadapkan pada arena job fair -bagian dari penyelenggaraan event ini.”



Sumber: Majalah Investor