Penutupan Sumur YYA-1 Pertamina Ditargetkan Selesai Sebelum 8 Oktober

Penutupan Sumur YYA-1 Pertamina Ditargetkan Selesai Sebelum 8 Oktober
(kiri-kanan) Ketua Tim I Penanganan Dampak Tumpahan YYA-1 Rifky Effendi H, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi (PHE) Meidawati, Kasubdir Keselamatan Hulu Minyak dan Gas Bumi ESDM Mirza Mahendra dan VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman saat konferensi pers Update Penanganan Intensif Peristiwa Sumur Lepas Pantai YYA-1, di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (15/8/2019). ( Foto: istimewa / Istimewa )
Herman / WBP Senin, 26 Agustus 2019 | 15:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pascamunculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) pada 12 Juli lalu, PHE ONWJ tengah berupaya maksimal untuk menutup sumur YYA-1 melalui sumur baru YYA-1RW.

Incident Commander dari kejadian ini, Taufik Aditiyawarman menyampaikan, sampai dengan Senin (26/8/2019) pagi, pengeboran relief well YYA-1RW telah menembus kedalaman lebih dari 6.911 feet atau 2.106 meter dari target 9.030 feet atau 2.765 meter.

Pengeboran sumur yang dilakukan secara miring ini membutuhkan akurasi tinggi karena harus mencari dan menemukan lubang sumur YYA-1. Setelahnya, baru dipompakan lumpur berat ke dalam sumur baru dengan tujuan mematikan sumur YYA-1. Nanti, setelah sumur YYA-1 dinyatakan mati, akan dilakukan monitoring selama 24 jam penuh sebelum dilanjutkan ke proses plug and abandon atau penutupan sumur secara permanen

“Apabila semua berjalan lancar sesuai rencana, sebelum 8 Oktober 2019 sumur YYA-1 sudah bisa kita tutup. Mudah-mudahan dengan akurasi dan deteksi dari tim di lapangan, penutupan ini bisa kita lakukan lebih cepat,” kata Taufik Aditiyawarman, di gedung PHE Tower, Jakarta, Senin (26/89/2019).

Untuk mematikan sumur YYA-1 ini, PHE ONWJ memakai perusahaan well control kelas dunia yakni Boots & Coots. Perusahaan asal Amerika Serikat tersebut telah berpengalaman dan terbukti menghentikan insiden serupa sumur YYA-1, dengan skala jauh lebih besar di Teluk Meksiko.

Selain itu, strategi berlapis untuk menahan tumpahan minyak sumur YYA-1 terus dilakukan agar tidak meluas ke perairan. Di offshore, antara lain dioperasikan 5.900 meter static oil boom di layer satu dan layer dua untuk menghadang oil spill atau tumpahan minyak dari sumber utama, 400 meter movable oil boom yang dioperasikan dua kapal untuk menghadang oil spill yang lepas dari sumber utama, 400 meter oil boom untuk proteksi FSRU NR di Tanjung Priok, tujuh unit oil skimmer untuk mengangkat dan menyedot oil spill, serta penyiagaan 47 kapal untuk combat oil spill, penampungan sementara, patrol, dan lainnya.

“Sampai 25 Agustus, total oil spill yang berhasil diangkat dari offshore mencapai 13.427 barel. Rata-tata oil spill yang berhasil diangkat sekitar 600 sampai 700 barel per hari, tapi kemarin tanggal 24 Agustus puncaknya mencapai 1000 barel,” ujar Taufik.

Sementara untuk penanganan oil spill di onshore, Ketua Tim 1 Penanganan Dampak Eksternal dari Incident Management Team (IMT) PHE, Rifki Effendi menyampaikan, PHE OWJ menggunakan fishnet atau jaring ikan, oil boom, serta pembersihan pesisir pantai oleh tim penanggulangan bersama dengan masyarakat daerah terdampak.

“Kawasan yang terdampak dari kejadian ini antara lain perairan Karawang, Bekasi, Pulau Seribu, Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Kita juga sudah melakukan pendataan di Kabupaten Tangerang, tetapi laporan dari aparat desa setempat ternyata belum ada tumpahan minyak yang mendarat di sana,” terang Taufik Aditiyawarman.



Sumber: BeritaSatu.com