Merasa Dipermainkan, Nasabah BTN Kirim Surat ke Direksi

Merasa Dipermainkan, Nasabah BTN Kirim Surat ke Direksi
Seorang teller sedang menjelaskan produk KPR online kepada nasabah di Kantor Cabang BTN di Jakarta, Kamis (28/3/2019). ( Foto: Beritasatu Photo/Ist )
Heriyanto / HS Rabu, 4 September 2019 | 15:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Salah seorang nasabah Bank Tabungan Negara (BTN) mengirim surat kepada jajaran direksi pusat karena merasa dipermainkan. Proses penyelesaian pelelangan dari skema kredit pemilikan rumah (KPR) seharusnya tidak berlarut-larut karena nasabah sangat membutuhkan dana penjualannya.

Surat dari nasabah Klemens Makasar yang mewakili istrinya Veronika Anik Oktarini diajukan pada Senin (5/9) ke kantor pusat BTN, Jakarta. Klemens mewakili istrinya sebagai nasabah BTN yang memanfaatkan KPR.
“Surat tertanggal 28 Agustus itu terpaksa saya ajukan karena kami merasa dipermainkan. Jumlah uangnya sih tidak banyak, tetapi itu sangat berarti bagi keluarga kami,” kata ayah dua anak ini.

Dalam surat tersebut Klemens mempertanyakan komitmen dan pelayanan BTN untuk memenuhi hak konsumen dalam transaksi KPR. Selain itu, dia juga meminta jajaran direksi pusat untuk mengevaluasi kinerja kantor-kantor cabang, khususnya BTN Cikokol, Tangerang.

Dia menjelaskan bahwa dia bersama istrinya mengadakan akad kredit atas sebuah rumah di Perumahan Walet Regency, Sindang Sari, Pasar Kemis, Tangerang, Banten. Rumah kecil tersebut kemudian dicicil secara rutin sejak tahun 2007 lalu. Namun, kesulitan ekonomi yang menimpa keluarganya pada tahun 2012 maka angsuran atas kredit rumah itu pun bermasalah.

“Kendati beberapa kali tersendat dan akhirnya dengan sekuat tenaga berusaha membayar denda pada tahun 2017. Pada akhirnya kamu terpaksa ikut proses pelelangan pada tahun 2018 karena pihak BTN menyatakan sudah ada investornya,” ujar Klemens yang saat ini banyak mengavokasi korban perdagangan manusia (human trafficking).

Sayangnya, kata Klemens, proses penyelesaian dari sisa pelelangan tersebut sepertinya bermasalah. Dirinya pernah mendatangi jajaran kantor BTN Cikokol tetapi tidak mendapatkan jawaban yang pasti terkait sisa dana dari lelang tersebut.

“Ada sisa uang sekitar Rp 10 juta yang seharusnya tidak sulit untuk dilunaskan kepada kami, tetapi menjadi tidak jelas. Uang tersebut sangat berarti bagi keluarga saya yang saat ini menetap di Sragen, Jawa Tengah, karena kami sangat membutuhkannya. Untuk melakukan lelang Rp 40 juta saja sudah menyedihkan bagi kami, teganya sisa Rp 10 masih dipermainkan,” ujar Klemens.

Merasa dipermainkan, pria asal Flores ini, lalu memberanikan diri untuk menyurati pimpinan BTN di kantor pusat Jakarta. Surat itu diantar sendiri ke kantor pusat BTN. “Mudah-mudahan ada perhatian sehingga sisa uang yang sangat dibutuhkan keluarga saya itu bisa dibereskan. Jangan sampai ulah segelintir oknum malah mencoreng nama dan kinerja BTN,” katanya sedih.

Terkait surat tersebut, pihak BTN belum berhasil dimintai konfirmasi. Hal yang sama juga belum ada respons dari perwakilan BTN Cabang Cikokol.



Sumber: Suara Pembaruan