J.P. Morgan Buat Indeks Pantau Dampak Cuitan Trump

J.P. Morgan Buat Indeks Pantau Dampak Cuitan Trump
Presiden AS Donald Trump bicara kepada wartawan setelah pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hanoi, Vietnam, 28 Feb. 2019. ( Foto: AFP )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 9 September 2019 | 10:28 WIB

New York, Beritasatu.com - Dalam rangka mengkuantifikasi dampak cuitan Presiden AS Donald Trump terhadap pasar obligasi, J.P. Morgan membuat indeks "Volfefe". Volfefe adalah gabungan dua kata, volatilitas dan "covfefe", sebuah kata tidak bermakna yang tidak sengaja di-tweet Trump beberapa tahun lalu.

J.P. Morgan menganalisa dampak tweet Trump terhadap volatilitas suku bunga obligasi tenor dua dan lima tahun. Cuitan yang mengandung kata kunci "China", "billion" dan "products" biasanya memiliki dampak terhadap pasar. Namun tweet-tweet ini semakin hari semakin kehilangan dukungan positif dengan like dan retweet yang terus berkurang.

Menurut hasil analisa, sejak terpilih sebagai presiden tahun 2016, Trump rata-rata men-tweet 10 kali per hari kepada 64 juta followers-nya. Sekitar 14.000 adalah cuitan akun personalnya, dan sebanyak 10.000 di antaranya terjadi setelah inaugurasi 2017. Sebanyak 4.000 cuitan terjadi saat jam perdagangan, dan 146 di antaranya memiliki dampak terhadap pasar.

Trump biasanya men-tweet jam 02.00 siang. Trump juga lebih aktif di dini hari sekitar jam 03.00 dibanding jam 03.00 sore. Dari kebiasan men-tweet, Trump diperkirakan tidur dari jam 5 hingga 10 pagi.

Menurut Bank of America Merrill Lynch, hari-hari di saat Trump aktif di media sosial biasanya diikuti dengan hasil negatif di pasar.

Meskipun cuitan Trump soal perdagangan dengan Tiongkok atau The Fed bisa mengganggu pasar, tetapi sejauh ini pasar modal masih mencatat hasil positif. Dow naik 42 persen sejak pemilu 2016 dan 31 persen sejak Trump dilantik.

"Isu perdagangan, kampanye politik, dan cuitan Trump soal Tiongkok hingga kebijakan the Fed dan pajak berkontribusi terhadap volatilitas," kata cheif equity strategist Savita Subramanian.



Sumber: CNBC