Minyak Brent Naik Tertinggi dalam 30 Tahun Terakhir

Minyak Brent Naik Tertinggi dalam 30 Tahun Terakhir
Fasilitas minyak Aramco di dekat area al-Khurj, tepat di selatan ibu kota Saudi, Riyadh, tampak pada Minggu (15/9/2019). Arab Saudi memulai kembali operasi di kilang minyak yang dilanda serangan pesawat nirawak yang memangkas produksinya hingga setengahnya. ( Foto: AFP / FAYEZ NURELDINE )
/ WBP Selasa, 17 September 2019 | 08:53 WIB

New York, Beritasatu.com - Minyak melonjak hampir 15 persen pada akhir perdagangan Senin atau Selasa pagi WIB (17/9/2019), dimana jenis minyak Brent mencatat lompatan terbesar dalam lebih dari 30 tahun setelah serangan terhadap fasilitas minyak mentah Arab Saudi memotong separuh produksi negara itu sehingga memicu kekhawatiran konflik di Timur Tengah.

Minyak mentah Brent, patokan internasional, ditutup menjadi US$ 69,02 per barel, melonjak 8,80 dolar AS atau 14,6 persen, kenaikan persentase satu hari terbesar sejak 1988. Sementara patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup US$ 62,90 per barel, melompat US$ 8,05 atau 14,7 persen, kenaikan persentase satu hari terbesar sejak Desember 2008.

Serangan itu meningkatkan ketidakpastian di pasar yang relatif tenang dalam beberapa bulan terakhir. Dampaknya dunia kehilangan minyak mentah dari Arab Saudi, yang secara tradisional menjadi pemasok utama. "Serangan terhadap infrastruktur minyak Saudi datang sebagai sebuah guncangan," kata analis pasar energi di St. Paul, Tony Headrick, Minnesota,

Arab Saudi yang merupakan eksportir minyak terbesar di dunia dan memiliki kapasitas cadangan besar, telah menjadi pemasok terakhir selama beberapa dekade.

Serangan akhir pekan terhadap fasilitas pemrosesan minyak mentah milik produsen Saudi Aramco di Abqaiq dan Khura memangkas produksi sebesar 5,7 juta barel per hari. Perusahaan belum memberikan pernyataan untuk dimulainya kembali operasi secara penuh.

Dua sumber yang mengetahui tentang operasi Aramco mengatakan pengembalian penuh ke produksi normal mungkin memakan waktu berbulan-bulan.

Para pejabat intelijen AS mengatakan pada Senin (16/9/2019) bahwa Iran berada di belakang serangan itu. Hal ini meningkatkan kekhawatiran pasokan global.

Presiden Donald Trump mengatakan dia "tidak terburu-buru" untuk merespons, namun dia menunggu lebih lanjut. Hal itu menandai pergeseran sikap dari cuitan Trump pada Minggu (15/9/2019), yang menyatakan Amerika Serikat "siaga" dan siap untuk menanggapi.

Importir utama minyak mentah Saudi, seperti India, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, akan menjadi yang paling rentan terhadap gangguan pasokan. Korea Selatan telah mengatakan akan mempertimbangkan melepaskan minyak dari cadangan strategisnya.

Trump menyetujui pelepasan minyak dari cadangan minyak strategis AS, yang menampung lebih dari 640 juta barel minyak mentah.

 

 



Sumber: Reuters, Antara