Danareksa: Dampak Perang Dagang Tekan Ekonomi Global, Bukan Resesi

Danareksa: Dampak Perang Dagang Tekan Ekonomi Global, Bukan Resesi
Pelabuhan peti kemas untuk aktivitas ekspor-impor. ( Foto: Antara )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 17 September 2019 | 11:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Danareksa Research Institute menilai pasar keuangan dalam negeri masih akan digerakkan sentimen eksternal seperti perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok, kenaikan harga komoditas, dan keputusan bank sentral AS (Federal Reserve/the Fed) soal suku bunga. Meski demikian, sejumlah sentimen tersebut tidak membuat resesi ekonomi global.

"Perang dagang AS - Tiongkok masih terus berlanjut," kaat Head of Danareksa Research Institute Moekti Prasetiani Soejachmoen dalam keterangan yang terima redaksi Selasa (17/9/2109).

Moekti Prasetiani Soejachmoen menjelaskan, mulai 1 September 2019 lalu, AS menaikkan tarif impor 15 persen untuk barang-barang impor Tiongkok senilai US$ 112 miliar, seperti alas kaki, tekstil dan produk elektronik. Sebagai balasan, Tiongkok mengenakan tarif impor 5 persen-25 persen untuk mobil dan suku cadang, kedelai dan lainnya yang masuk dari AS.

Presiden AS Donald Trump dalam kaitan dengan masa kampanyenya, mengedepankan isu nasionalisme bahwa Tiongkok yang membuat ekonomi AS memburuk. Dengan adanya kenaikan tarif impor produk Tiogkok, maka pendapatan AS dapat meningkat, yang kemudian digunakan untuk subsidi petani kedelai dan gandum sebagai kompensasi atas dihentikannya impor produk pertanian AS ke Tiongkok. "Perang dagang AS-Tiongkok ini menyebabkan melambatnya perekonomian dunia, namun tidak akan menjadikan resesi global, sebagaimana juga diutarakan beberapa ekonom global," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal II tahun 2019 mengalami penurunan, atau terendah dalam 27 tahun terakhir. Namun stimulus yang diberikan pemerintah Tiongkok berhasil mempertahankan output retail sales dan investasi. Sementara Consumer (dan Business) Confidence Index (di AS) yang erat kaitannya dengan saham dan ekonomi, mengalami penurunan di Juli 2019 lalu.

Di sisi lain, kata Moekti Prasetiani Soejachmoen menambahkan, pelaku pasar juga perlu mencermati harga komoditas yang mulai naik. Selain batu bara dan tembaga (copper), semua komoditas termasuk emas, minyak sawit (crude palm oil/CPO) dan karet sudah mengalami pemulihan atau recovery sejak Juli 2019. "Khususnya emas yang bersama US Treasury (surat utang AS) dan Japan Treasury (surat utang Jepang), merupakan instrument safe haven (asset aman) di keuangan global," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Harga emas dunia saat ini masih berada di rentang US$ 1.503 per troy ounce yang terus meningkat di tengah ketidakpastian global. Hal ini juga berdampak pada harga emas Antam.

Sementara harga minyak global kata Moekti Prasetiani Soejachmoen menambahkan, terkerek naik setelah serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan ini menyebabkan produksi hariannya terpangkas hingga 5,7 juta barel, lebih dari setengah produksi harian Arab Saudi. Harga minyak diperkirakan berpotensi naik hingga US$ 10 per barel, meski dampaknya bergantung pada kemampuan normalisasi produksi.

Hingga awal minggu ini, Arab Saudi menyatakan dapat menormalisasi output yang hilang sebesar 2 juta barel. Berdasarkan asumsi APBN, setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar US$ 1 akan meningkatkan suplus anggaran pemerintah Indonesia sebesar Rp 300- Rp 500 miliar. "Kenaikan harga minyak dunia biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Soal kebijakan the Fed, Moekti Prasetiani Soejachmoen mengatakan, bank sentral AS akan mengadakan sidang di September 2019 atau kuartal keempat ini, sebelum Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. "Pada sidang tersebut, besar kemungkinan the Fed akan menurunkan tingkat suku bunganya.” kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.

Bank Indonesia pada 22 Agustus 2019 menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen atau sebesar 25 basis poin (bps). BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada Rabu-Kamis atau 18-19 September 2019 untuk menetapkan tingkat suku bunga. "Dalam kaitannya dengan ini, Danareksa Research Institute memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-Day Reserve Repo Rate akan diturunkan bunga sebesar 25bps menjadi 5,25 persen," kata Moekti Prasetiani Soejachmoen.



Sumber: BeritaSatu.com