Bakrie Dikenal Licin Bongkar Pasang Portofolio

Bakrie Dikenal Licin Bongkar Pasang Portofolio
Ilustrasi: properti ( Foto: JG/Safir Makki )
Senin, 2 Juli 2012 | 15:30 WIB
Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha

Bak pendekar dalam laga silat yang memilki 10 nyawa, dalam kondisi keuangan yang sulit grup Bakrie tetap mampu bertahan melakukan aksi korporasi.

Perusahaan keluarga Bakrie melalui kendaraannya PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dikenal licin melakukan bongkar pasang portofolio usaha.

Meski Bakrie & Brothers terus menjual anak usaha untuk melunasi utangnya, namun perusahaan investasi ini selalu menemukan cara mengganti kontribusi anak usaha yang  menjadi andalan utama perusahaan.

"Penjualan anak usaha yang memiliki kinerja bagus, merupakan salah satu strategi Bakrie & Brothers sebagai investment holding company," kata analis Horizon Research, Vicky Pranadjaya, dalam risetnya yang dikirim Beritasatu.com.

Pada periode 2008-2010, perkebunan menjadi segmen yang memberi kontribusi besar terhadap laba usaha perusahaan dengan menyumbangkan laba usaha tertinggi dibandingkan segmen lainnya. Namun Sejak tahun 2010, Bakrie & Brothers melakukan shifting portofolio usaha dari sektor perkebunan pada segmen perdagangan, jasa, dan investasi.

Pada 2008, kontributor pendapatan terbesar berasal dari segmen perkebunan dengan menyumbang 34,88 persen, berikutnya insfratruktur sebesar 34,55 persen dan sektor telekomunikasi 30,57 persen.

Pada 2009, komposisi pendapatan sedikit berubah. Kontribusi terbesar berasal dari sektor telekomunikasi 40,33 persen, disusul sektor perkebunan 30,47 persen, dan infrastruktur 29,2 persen.

Di 2010, terdapat segmen baru yaitu segmen perdagangan, jasa, dan investasi. Di dalamnya terdapat penjualan dari sektor komoditas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan perusahaan patungan Bumi Borneo dengan kontribusi sebesar 50,82 persen terhadap pendapatan konsolidasi perusahaan.

Pada 2011, segmen perdagangan, jasa, dan investasi kembali menjadi kontributor terbesar dengan presentase sebesar 65,17 persen, dan segmen perkebunan menjadi tidak ada. Pasalnya, Bakrie & Brothers melakukan penjualan saham Bakrie Sumatera Plantations untuk melunasi sebagian utangnya sehingga kepemilikannya hanya menjadi 29,80 persen.

"Dengan demikian pendapatan Bakrie Sumatera Plantations tidak lagi dikonsolidasikan ke Bakrie & Brothres, karena sudah kehilangan kepemilikan mayoritas pada saham tersebut," kata Vicky.

Adapun Bakrie Telecom kata Vicky, memiliki utang besar dengan kinerja yang tidak terlalu baik. Tak heran, Bakrie & Brothers mulai mengurangi portofolio investasinya karena dinlai memberatkan. Ketidakikutsertaan BNBR dalam riggt issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) Bakrie Telecom beberapa wakjtu lalu, mengisyaratkan Bakrie & Brothers tidak mau investasi lagi di perusahaan telekomunikasi milik grup Bakrie tersebut.

"Ssegmen perdagangan, jasa, dan investasi baru berkontribusi terhitung mulai 2010 dengan cakupan pendapatan dari penjualan sumber daya alam (resources), serta investasi atas perusahaan asosiasi ataupun perdagangan surat berharga lainnya," kaat Vicky.

Dia menjelaskan, shifting portolfolio bukan karena UNSP dan sektor perkebunan memiliki kinerja buruk. Namun, manajemen menilai Bakrie  sudah tidak cocok lagi dengan target return perusahaan investasi karena permintaan dan pasokannya sudah terbatas. Selain itu, target price yang dinginkan sudah tercapai.

Pendapat berbeda diungkapkan Kepala riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo yang menilai, Bakrie Sumatera Plantations tidak terlalu bagus sekali. Apalagi mengacu pada laporan kekuangan 2011, tanaman menghasilkan perseroan mengalami penurunan menjadi hanya Rp117,157 miliar turun dari 2010 sebesar Rp293,429 miliar. Padahal, jumah lahan yang menghasilkan meningkat menjadi 96.865 ha (hektar) dari 2010 sebesar 90.178 ha

Di sisi lain, pendapatan dari tanaman belum menghasilkan Bakrie Sumatera Plantations meningkat Rp175 miliar di 2011 dari Rp127 miliar pada 2010. Sementara dari sisi jumlah lahan adalah 25.694 ha (2011) dari 33.885 ha (2010) dan 19.961 ha (2009).

Namun Bakrie memang cerdik. Saat melepas perusahaan di sektor perkebunan, perusahaan mampu menemukan penggantinya dari segmen lainnya, yakni perdagangan, jasa, dan investasi.

Penjualan anak usaha tidak membuat kinerja Bakrie & Brothers menjadi turun, terbukti perusahaan dengan cepat mampu menemukan penggantinya melalui BUMI Plc. Ke depan, Bakrie Brothers akan fokus ke energi dan infrastruktur melalui PT Bakrie Energy International dan PT Bakrie Indo Infrastructure. Meski demikian, perseroan masih mempertahankan kepemilikannya di Energi Mega Persada, Bumi Plc, dan Bakrieland Development.

Kontribusi pendapatan per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur (34,55 persen), Perkebunan (34,88 persen), Telekomunikasi (30,57 persen)

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan (30,47 persen), Telekomunikasi (40,33 persen)

2010:Perdagangan, jasa dan investasi, (50,82 persen), Infrastruktur (11,87 persen), Perkebunan (18,16 persen), Telekomunikasi (19,15 persen)

2011:Perdagangan, jasa dan investasi, (65,17 persen), Infrastruktur (15,98 persen),  Telekomunikasi (18,85 persen)

Kontribusi laba usaha per sektor terhadap total pendapatan Bakrie & Brothers periode 2008-2011:

2008:Infrastruktur Rp100 miliar, Perkebunan Rp759 miliar, Telekomunikasi Rp390 miliar

2009: Infrastruktur merugi Rp73 miliar, Perkebunan Rp470 miliar, Telekomunikasi Rp303 miliar

2010:Perdagangan, jasa dan investasi merugi Rp5 triliun, Infrastruktur Rp16 miliar, Perkebunan Rp849 miliar, Telekomunikasi Rp208 miliar

2011:Perdagangan, jasa dan investasi Rp1,698 triliun, Infrastruktur merugi Rp50 miliar, Telekomunikasi merugi Rp95 miliar

Investasi Bakrie & Brothers pada anak usaha dan perusahaan asosiasi periode 2008-2011:

2008: Bakrie Telecom (49,13 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (14,85 persen), Bumi Resources (16,46 persen), Bakrie Sumatera (65,28 persen).

2009: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (43,20 persen), Bakrieland Development (20,95 persen), Bumi Resources (19,15 persen), Bakrie Sumatera (41,78 persen).

2010: Bakrie Telecom (45,58 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (20,50 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen).

2011: Bakrie Telecom (29,95 persen), Energi Mega Persada (8,75 persen), Bakrieland Development (8,14 persen), Bumi Resources (10,23 persen), Bakrie Sumatera (27,42 persen), dan Borneo Lumbung Energy (27,42 persen).

Sumber: Horizon Research yang diolah dari laporan keuangan