Bappenas: Sekarang Kesempatan Terbaik Indonesia Jadi Negara Maju

Bappenas: Sekarang Kesempatan Terbaik Indonesia Jadi Negara Maju
Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brojonegoro menyampaikan keynote speech di acara seminar nasional Pengembangan SDM Unggul untuk Memanfaatkan Peluang Bonus Demografi Menuju Indonesia Maju Pada RPJMN 2020-2024, di gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta, Jumat (20/9/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Herman )
Herman / FMB Jumat, 20 September 2019 | 10:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi yang diperkirakan akan berakhir pada 2037. Namun, bonus demografi ini tidak diperoleh secara otomatis, tetapi memerlukan prasyarat utama yaitu tersedianya sumber daya manusa (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing.

Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brojonegoro menyampaikan, bonus demografi merupakan kesempatan yang hanya terjadi sekali dalam sejarah bangsa, sehingga harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin melalui pengembangan SDM yang unggul. Bonus demografi ini menurutnya juga akan membuka kesempatan bagi Indonesia untuk bisa menjadi negara maju.

“Inilah saat terbaik bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Saat ini, posisi kita masih upper middle country. Karenanya, bonus demografi ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya melalui peningkatan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. Jepang dan Korea Selatan sudah membuktikan bahwa dengan memanfaatkan bonus demografi, mereka bisa melompat menjadi negara maju,” kata Bambang Brodjonegoro, di acara seminar nasional Pengembangan SDM Unggul untuk Memanfaatkan Peluang Bonus Demografi Menuju Indonesia Maju Pada RPJMN 2020-2024, di gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Dalam upaya meningkatkan manusia yang berkualitas dan berdaya saing, Bambang mengatakan arah kebijakan yang diambil pemerintah antara lain meningkatkan produktivitas dan daya saing; mengentaskan kemiskinan; meningkatkan pemerataan layanan pendidikan berkualitas; meningkatkan kualitas anak, perempuan dan pemuda; mengendalikan pertumbuhan dan memperkuat tata kelola kependudukan; memperkuat pelaksanaan perlindungan sosial; serta meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta.

Terkait persiapan dan intervensi kebijakan untuk bonus demografi, di bidang kependudukan dan kesehatan, menurut Bambang diperlukan upaya untuk menjaga penurunan fertilitas melalui peningkatan demand creation dan pelayanan keluarga berencana yang berkualitas, meningkatkan kelangsungan hidup anak, dan meningkatkan jaminan dan keselamatan kerja. Selanjutnya adalah meningkatkan status gizi anak agar anak tumbuh dan berkembang menjadi angkatan kerja yang sehat, cerdas dan produktif.

Sedangkan di bidang pendidikan, intervensi yang dilakukan adalah memperluas layanan pendidikan yang berkualitas, meningkatan keterampilan angkatan kerja, meningkatan kualitas dan standar kompetensi, serta meningkatkan relevansi pendidikan dan pelatihan kerja, “Peningkatan produktifitas tenaga kerja merupakan salah satu kunci memperpanjang bonus demografi. Selain itu, mismatch antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan pasar juga harus segera ditutup,” tuturnya.

Bambang juga menegaskan bahwa terpenuhi layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial merupakan elemen penting dalam membentuk manusia yang berkualitas dan berdaya saing. “Investasi pada manusia itu harus dimulai sejak dari lahir. Karenanya, sektor kesehatan menjadi hal yang paling prioritaskan. Sebab apabila manusianya tidak sehat, mereka tidak akan bisa produktif, apalagi memiliki daya saing,” kata Bambang.



Sumber: BeritaSatu.com