Keselamatan Pelayaran, Kunci Gaet Wisatawan Bahari

Keselamatan Pelayaran, Kunci Gaet Wisatawan Bahari
Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal atau Marine Inspector Kementerian Perhubungan menggelar inspeksi keselamatan tiga unit kapal layar motor (KLM) di Pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni KLM Seasafari VII, KLM Keirina, dan KLM Tanaka, Jumat (20/9/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Lona Olavia )
Lona Olavia / FER Jumat, 20 September 2019 | 16:57 WIB

Labuan Bajo, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, meminta semua stakeholders atau pemangku kepentingan untuk meningkatkan budaya selamat dan budaya bersih di lingkungan perairan, termasuk pelabuhan.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Agus H Purnomo menegaskan, budaya selamat sangat penting dan strategis di wilayah pariwisata. Budaya lain yang juga harus dikembangkan adalah menciptakan budaya bersih, salah satunya dengan tidak membuang sampah ke laut. Tak terkecuali di Labuan Bajo yang merupakan satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas.

"Keselamatan harus dijaga ini berhubungan dengan pariwisata. Kalau terjadi kecelakaan akan merugikan kita. Cepat viral. Program kebersihan juga akan dikampanyekan di daerah wisata di seluruh pelabuhan. Harapannya akan ada peningkatan wisatawan lokal dan asing. Wisata itu jadi program dunia. Kalau dikemas secara maksimal akan sangat menarik," ujarnya di sela-sela perayaan Hari Maritim Nasional 2019 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (20/9).

Lebih lanjut guna memberikan pandangan positif wisatawan terhadap Labuan Bajo, Kemhub akan meningkatkan sarana dan prasarana. Misalnya, memperbanyak kapal wisata glass bottom (bagian bawah kapal berbahan kaca). Selain itu, pemindahan pelabuhan kargo agar jauh dengan lokasi wisata.

"Jadi, sekarang kami sedang siapkan studi untuk memindahkan pelabuhan kargo di lokasi baru yang cepat dan murah. Dari segi komersial pelabuhan Labuan Bajo tidak besar. Diharapkan tahun depan bisa dimulai, sekarang masih dalam kajian atau survei. Disini kan padat sekali, jadi kotor dan membuat pengunjung tidak nyaman. Nanti jauh dari lokasi wisata," jelas Agus.

Adapun Pelabuhan Labuan Bajo yang lokasinya terletak di Kabupaten Manggarai Barat memiliki peran dan kontribusi yang besar dalam mendukung sektor pariwisata. Bahkan ke depan, Kementerian Perhubungan berencana akan menjadikan pelabuhan Labuan Bajo sebagai pelabuhan khusus penumpang atau kapal wisata.

Uji Petik

Kemhub melakukan uji petik terhadap tiga kapal di Pelabuhan Labuan Bajo. Ini sebagai salah satu upaya mengkampanyekan keselamatan pelayaran. Di mana, dalam pemeriksaan tersebut, dilakukan pengecekan terhadap tiga aspek yakni mesin, safety navigasi, safety equipment atau peralatan keselamatan.

Sebanyak tujuh srikandi Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal atau Marine Inspector Kementerian Perhubungan menggelar inspeksi keselamatan tiga unit kapal layar motor (KLM) di Pelabuhan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni KLM Seasafari VII, KLM Keirina, dan KLM Tanaka.

Kasubdit Keselamatan Kapal Ditjen Perhubungan Laut Kemhub, Sidratul Muntaha mengatakan, inspeksi keselamatan kapal itu merupakan bagian dari Kampanye Keselamatan Pelayaran dan Peringatan Hari Maritim Nasional 2019.

"Uji petik dilakukan untuk memastikan kelaikan kapal. Kalau ada uji petik ada temuan mayor, sertifikat keselamatan kapal bisa dicabut. Karena ini menyangkut keselamatan jiwa," tegasnya.

Diakuinya, uji petik keselamatan kapal biasanya dilakukan menjelang periode musim puncak penumpang seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru atau ketika ingin mendapatkan Surat Persetujan Berlayar (SPB) maupun ketika SPB berakhir. Adapun, sertifikat ini berlaku dalam waktu 6-20 bulan. Namun, kali ini berbeda karena sekalian merayakan Hari Maritim Dunia sekaligus menunjukkan bahwa uji petik bisa juga dilakukan Women in Maritime (WIMA) dalam rangka hari jadi ke-4.

Sementara terkait hasil uji petik, disimpulkan bahwa semua laik laut dan laik melayani, hanya dibutuhkan beberapa pembenahan yang sifatnya minor. Misalnya, tidak tercantumnya nama kapal di jaket pelampung, belum adanya lampu jaket di pelampung, dan belum adanya poster penggunaaan jaket pelampung.



Sumber: Suara Pembaruan