Future Banking, PermataBank Fokus Lakukan Transformasi Digital

Future Banking, PermataBank Fokus Lakukan Transformasi Digital
PermataBank Future Banking (Dari kiri) Director In-charge Astra Financial Suparno Djasmin, Wakil Presdir Astra International Djony Bunarto Tjondro, Direktur Teknologi PermataBank Abdy Salimin, Presdir Astra International Prijono Sugiarto, Direktur Pengawasan Bank 2 Otoritas Jasa Keuangan Adief Razali, dan Dirut PermataBank Ridha DM Wirakusumah, memperlihatkan tampilan terbaru dari corporate website PermataBank di Menara Astra, Jakarta. ( Foto: dok )
Yudo Dahono / YUD Minggu, 22 September 2019 | 09:15 WIB

Jakarta – Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, PermataBank semakin serius menggarap digital banking untuk memberikan layanan lebih cepat, terukur tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Transformasi ke digibank tersebut sebagai tahapan PermataBank menuju tren perbankan masa depan atau future banking.

Kompetisi di industri keuangan saat ini semakin ketat. Selain persaingan dengan sesama pemain di industri perbankan, ancaman lain datang dari layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) yang makin menjamur.

Terkait hal itu, Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo beberapa waktu lalu mengingatkan para pelaku industri perbankan nasional untuk cepat menyesuaikan diri dan melakukan inovasi agar tidak tergilas oleh kehadiran perusahaan financial technology (fintech) yang menjanur di Indonesia belakangan ini.

Menurut Perry Warjiyo, langkah cepat dan adaptif industri perbankan nasional harus dilakukan, sebab dewasa ini perilaku bertransaksi masyarakat juga sudah bergeser dari konvensional menuju digitalisasi. Apalagi, tuturnya, perkembangan digitalisasi ini semakin masif seiring dengan pengguna smartphone kian banyak.

Dalam konteks itulah, Bank Indonesia dalam salah satu visi pembayaran Indonesia 2025 mendukung digitalisasi perbankan sebagai lembaga utama dalam ekonomi- keuangan digital melalui open-banking maupun pemanfaatan teknologi dan data dalam bisnis keuangan.

Menurut catatan OJK, pada akhir 2018 lalu sedikitnya ada 80 bank dari 114 bank di Indonesia atau sekitar 70 % yang mencoba memberikan pelayanan digital banking untuk nasabahnya. Karenanya, OJK menyarankan agar bank dalam negeri bisa meniru Singapura dan Hong Kong yang sudah banyak menjalankan digital banking. Karenanya, kini sejumlah bank berlomba-lomba melakukan inovasi teknologi informasi agar tak tergerus di era disrupsi digital sekarang.

Hal serupa juga dilakukan PermataBank. Anak perusahaan PT Astra International Tbk yang terus melakukan pernyempurnaan pada layanan digital banking-nya, seperti penambahan fitur dalam website dan aplikasi digitalnya, Permata App.

Direktur in-charge Astra Finance, Suparno Djasmin mengungkapkan PermataBank menambah banyak fitur dalam layanan digitalnya. Ini menjadikan layanan digital banking PermataBank terbanyak di antara para pesaingnya. “Bahkan, PermataBank menyematkan fitur yang belum dipunyai bank lain, seperti pendeteksian suara (voice recognition) dan face id, “ ujar Suparno Djasmin di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Direktur Pengawasan Bank 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Adhief Razali mengakui digitalisasi pelayanan perbankan di Indonesia sebenarnya agak terlambat dibanding dengan layanan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) yang sudah menjamur sejak dua tahun lalu.

Adhief menambahkan saat ini nasabah membutuhkan pelayanan yang serba cepat dan mudah. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui pelayanan digital banking. “Hanya saja, perbankan tetap menjamin keamanan, kerahasiaan, dan integritas dalam melayani nasabah,” ujarnya.

Menjawab kebutuhan layanan yang serba cepat itu, Permata Bank meresmikan digital branch di Menara Astra yang mengintegrasikan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) melalui Model Branch. Ini merupakan digital branch pertama milik PermataBank. “Kehadiran Model Branch ini bisa meningkatkan pelayanan yang lebih cepat dan baik lagi kepada para nasabah PermataBank,” ujar Suparno Djasmin.

Model Branch PermataBank tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman bagi nasabah baik secara offline dengan bantuan staf maupun secara online melalui penggunaan teknologi digital atau self-service. Konsep ini diyakini dapat memberikan konsistensi baik dalam hal penawaran produk dan layanan, look-and-feel (tampilan), desain, maupun teknologi yang keseluruhannya memberikan pengalaman yang memuaskan dan terintegrasi bagi nasabah, tambahnya.

Direktur Utama PermataBank, Ridha DM Wirakusumah mengatakan pembukaan Model Branch ini merupakan salah satu wujud dari digital roadmap PermataBank. Model Branch ini merupakan yang pertama di perbankan Indonesia, yang secara berkelanjutan akan menempatkan teknologi digital yang tepat dan sesuai bagi nasabah.

“Dalam konteks ini, PermataBank akan selalu memegang komitmennya dalam melayani nasabah dengan prinsip simple, fast, dan reliable dalam menghadirkan teknologi digital untuk menjawab kebutuhan perbankan masa kini,” paparnya.

Keseriusan perusahaan melakukan transformasi ke digital banking ini dalam setahun terakhir berdampak pada peningkatan produktivitas dan kapasitas PermataBank. Jika pada 2016, volume transaksi tercatat sebesar 157 juta kali, maka pada tahun 2019 melonjak menjadi 288 juta kali atau naik 83 persen. Sebagian besar terjadi pada transaksi digital. Jika dua tahun lalu transaksi digital tercatat sebanyak 81 persen maka tahun ini sudah meningkat menjadi 95 persen.

Direktur Teknologi dan Operasional PermataBank, Abdy Salimin menjelaskan, kehadiran digital banking PermataBank juga mendongkrak produktivitas unit transaksi. Jika pada tahun 2016 produktivitas unit transaksi di PermataBank tercatat sebanyak 100.000 maka pada 2019 ini telah meningkat menjadi 193.000 atau naik 87 persen.

Sejalan dengan itu, tuturnya, efisiensi transaksi juga menurun. Jika dua tahun lalu efisiensi transaksi tercatat sebesar Rp 1.817 per transaksi maka tahun ini sudah turun ke kisaran Rp 1.070 per transaksi atau berkurang 41 persen.

Di sisi lain, jumlah rekening baru pada tahun 2016 tercatat 1,6 juta maka pada Agustus tahun 2019 ini tercatat sebanyak 7,6 juta atau bertambah 6 juta rekening baru. “Semua ini tidak akan tercapai kalau kita hanya menbuka kantor cabang saja dan tidak mengembangkan digital banking. Setelah kita kembangkan digital banking, satu tahun rata-rata tercatat 28 juta nasabah yang memakai MobileX PermataBank,” ujarnya.

Tingkatkan Inklusi Keuangan
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, dengan melanjutkan inovasi pada sistem perbankan dapat menjadi katalis dalam membantu pemerintah menghadapi tantangan tersebut, karena manfaat produk dan layanan keuangan dapat dinikmati hingga kepada underserved yang sebelumnya tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal.

Sistem yang berbasis teknologi pun, tambah Wimboh, juga diharapkan mampu membawa tingkat literasi keuangan Indonesia yang lebih maju sehingga akan menghasilkan pertumbuhan inklusi keuangan Indonesia.

Di sisi lain, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2016 OJK menunjukkan inklusi keuangan sebesar 67,82%, di mana dominasi peran perbankan yang sangat signifikan yaitu sebesar 63,63%, kemudian diikuti kontribusi oleh lembaga keuangan non bank lainya seperti asuransi (12,08%), lembaga pembiayaan (11,85%), penggadaian (10,49%), dana pensiun (4,66%), dan pasar modal (1,25%). Meningkatnya inklusi keuangan tidak lepas dari peran dan akselerasi semua pihak, terutama perbankan.

Sementara itu, pada semester pertama 2019, PertamaBank berhasil mencatatkan pertumbuhan positif. Pada sesester I tahun 2019 Bank Permata membukukan laba bersih sebesar Rp 711,39 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 146,29 persen atau naik Rp 422,55 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu di mana laba yang dibukukan tercatat sebesar Rp 288,84 miliar.

PermataBank juga mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 2,54% year on year (yoy) menjadi Rp 2,7 triliun. Sedangkan, total aset PermataBank secara year to date (ytd) masih mencatatkan penurunan sebesar 3,34% menjadi Rp 147,77 triliun.

Di sisi lain, total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tercatat mencapai Rp 101,58 triliun naik 2,7% secara ytd. Berdasarkan segmen kreditnya, modal kerja dan konsumsi masih menjadi andalan penyaluran kredit perusahaan.



Sumber: BeritaSatu.com