Di Markas PBB, Wapres Serukan Perbaikan Nasib Petani Kopi

Di Markas PBB, Wapres Serukan Perbaikan Nasib Petani Kopi
Wapres RI Jusuf Kalla memimpin sidang Sustainable Development Goals (SDG) Summit di Markas Besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York, AS, Rabu (25/9/2019). ( Foto: Kemlu RI / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WBP Kamis, 26 September 2019 | 13:16 WIB

New York, Beritasatu.com - Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla (JK) menghadiri forum “Aksi Bersama Mengatasi Krisis Harga Kopi dan Mencapai Produksi Kopi Berkelanjutan” di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat (AS), Rabu (25/9/2019). Dalam forum yang digelar bersamaan Sidang Majelis Umum (SMU) ke-74 PBB, JK menyampaikan krisis harga biji kopi telah menyebabkan kerugian bagi petani kecil.

JK menyatakan harga biji kopi dunia telah turun sampai 70 persen sejak 1982. Salah satu penyebabnya sangat fundamental, yaitu kelebihan pasokan produksi biji kopi dunia. “Saya ingin menggarisbawahi dua dampak utama dari krisis harga kopi ini. Pertama, petani kecil adalah korban yang paling dirugikan. Petani kecil, bukan industri atau pun konsumennya,” kata JK saat menyampaikan pernyataan Indonesia, seperti dikutip dari situs wapresri.go.id.

JK mengatakan dampak kedua adalah pekerjaan menanam kopi kini tidak lagi menjadi sumber penghidupan yang diminati, sehingga sejumlah petani kopi memutuskan beralih ke sektor lain. “Akibatnya akan mempengaruhi keseinambungan pasokan kopi global,” kata JK.

JK mengungkapkan lebih dari 96 persen lahan kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil. Indonesia sangat prihatin dengan krisis tersebut karena pendapatan petani kecil justru menurun di saat keuntungan industri-industri besar kopi di dunia semakin meningkat. “Lebih dari 25 juta petani kecil kopi di seluruh dunia berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Indonesia sendiri memiliki 1,8 juta petani kopi,” kata JK.

JK menambahkan Indonesia sebagai negara penghasil kopi, menyerukan negara-negara di dunia membuat terobosan baru untuk memperbaiki nasib produsen kopi di negara masing-masing. “Kita tidak bisa berdiam diri,” kata JK.

Berdasarkan data dari Organisasi Kopi Internasional (ICO) tahun 2018, Indonesia berada di peringkat ke-4 produsen kopi terbesar di dunia dengan memproduksi setidaknya 10 juta karung kopi per tahun. Peringkat pertama sampai ketiga secara berturut-turut adalah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

JK mengusulkan sejumlah solusi untuk mengatasi merosotnya harga kopi dunia. Pertama, memperluas pasar kopi dan mengendalikan jumlah pasokannya. Menurut JK, ICO telah menyoroti potensi kopi untuk sektor non-tradisional seperti menggunakan biji kopi sebagai bahan baku industri kesehatan.

Kedua, JK menyerukan peningkatan kapasitas petani kecil agar kemampuannya bertambah untuk menghasilkan kualitas kopi yang baik dan bernilai tambah.

Ketiga, membangun kemitraan antara industri dan petani kecil. Contohnya, industri kopi besar harus berkontribusi dalam corporate social responsibility (CSR) untuk peningkatan kapasitas petani kecil.

Keempat, perlu upaya khusus untuk menjaga keseimbangan harga kopi bagi petani, industri, dan konsumen. Menurut JK, perlu kerja sama dan pengembangan strategi, serta kampanye inovatif agar petani mendapatkan harga lebih adil. Salah satunya termasuk menetapkan harga kopi minimum yang menguntungkan petani kecil. “Masa depan yang adil dan sejahtera bagi petani kopi, industri, dan konsumen,” tandas JK.



Sumber: Suara Pembaruan